Showing posts with label Tips Sukses Presentasi. Show all posts
Showing posts with label Tips Sukses Presentasi. Show all posts

10 Dosa Dalam Percakapan

Percakapan adalah kunci menuju kepribadian, intelektualitas, dan kehidupan spiritual yang lebih baik.

Sayangnya, masih banyak orang yang tidak tahu bagaimana membangun percakapan yang menyenangkan bagi lawan bicaranya.
Akibatnya, lawan bicara bukannya tertarik untuk saling berbagi cerita, tetapi jadi bosan dan ingin segera meninggalkan Anda. Hal itu akan terjadi bila Anda melakukan "dosa" sebagai berikut:

1. Mendominasi percakapan.

Anda baru saja selesai menceritakan sebuah pengalaman yang lucu. Namun seseorang yang merasa dirinya lebih dari Anda, dan ingin mendominasi akan berkata seperti ini, "Itu tidak lucu. Lebih lucu ceritaku, nih".
Orang yang senang mendominasi percakapan sebenarnya tidak berniat untuk mendengarkan Anda. Mereka berharap Anda lah yang akan mendengarkan mereka. Mereka akan senang menantang Anda untuk mendengarkan cerita Anda, namun tidak mau Anda memberikan komentar. Mereka hanya berniat untuk membuat lawan bicara menjadi pendengar saja.

2. Pandangan mata.
Ada pepatah mengatakan bahwa pandangan mata akan mengatakan segalanya, sedikitnya hal itu benar dan berlaku dalam percakapan. Kalau lawan bicara Anda menatap Anda seakan ingin "menelan" Anda, pasti ada hal yang mengganggunya. Begitu juga bila seorang teman lama mendatangi Anda dan menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan. Anda menyambut jabatannya, tetapi Anda tak menatapnya. Hal ini memberi kesan Anda meremehkan dirinya.

3. Pura-pura mendengar.

4. Salah sasaran.

Bercanda dengan kaum pria tentu berbeda dengan bercanda dengan saat Anda bersama rekan-rekan wanita. Pastikan bahwa lelucon yang Anda lontarkan untuk perempuan memang sesuai untuk mereka, atau sebaliknya (lelucon yang pas untuk pria). Sebab tidak semua jenis humor bisa disampaikan kepada semua pendengar.

5. Merasa ikut tenar.

Anda mengatakan kenal dengan selebriti A atau B, atau sering nongkrong bareng penyanyi atau band ini dan itu. Sekali- dua kali, cerita ini mungkin akan terdengar hebat di kalangan teman-teman Anda. Namun akan membosankan saat Anda memaksakan topik yang hanya mempertunjukk an kebolehan Anda dalam berteman.

6. Semua tentang diri sendiri.

7. Hal-hal negatif.

Menceritakan semua hal yang berhubungan dengan kemalangan Anda boleh saja dilakukan sesekali. Tetapi kalau hal itu menjadi topik yang terus-menerus Anda umbar, semua orang pasti akan memilih menghindar saja dari Anda. Semua orang akan senang bertukar pengalaman dan memberikan solusi, tapi terus terang saja hal-hal yang negatif tidak selalu menjadi bahan perbincangan yang menarik.

8. Jawaban pendek.

9. Terlalu banyak bicara.

10. Ingin terlihat smart.
READ MORE - 10 Dosa Dalam Percakapan

Sukses Melakukan Presentasi

Saya sering mendapat pertanyaan bagaimana melakukan presentasi yang baik. CEO, marketing manager, account executive di biro iklan, penyiar yang bagus di depan kamera, banyak yang merasa gagal begitu harus berbicara di hadapan umum. Di kampus mahasiswa juga mengeluh, katanya banyak dosen yang pintar untuk dirinya sendiri, ilmunya tidak mengalir. Kita semua memang memiliki masalah yang sama ketika harus berbicara di hadapan publik.

Berikut adalah Tips Bagaimana melakukan Presentasi yang baik.

1. Jangan biasakan tergantung pada teks.

Teks dapat membunuh bakat, merusak flow, dan menciptakan jarak. Gunakan pointers, sekedar untuk membantu.

2. Ukur sungguh-sungguh dalamnya sungai.

Pelajari dulu siapa audience-nya, latar belakang, jalan pikiran, pendidikan dan jabatan mereka. Jangan main asal tembak.

3. Jangan bicarakan dua hal ini.

Yang sudah mereka tahu, atau yang tak ingin didengar. Selalu sajikan hal-hal yang orisinal, jangan merusak mood audience dengan pernyataan yang tidak disukai.

4. Jangan biarkan audince jenuh.

Jaga volume suara, nada tidak monoton, begitu mereka mulai jenuh ajaklah dialog, berikan sedikit humor.

5. Humor tidak boleh berlebihan.

Ia hanya boleh digunakan untuk membangkitkan daya pikir. Jika berlebihan akan kehilangan substansi.

6. Periksa ruangan dan fasilitas presentasi.

Termasuk mikrophon sebelum dimulai. Ruangan yang langit-langitnya rendah akan membuat Anda cepat letih. Cahaya yang masuk dari kaca dapat mengganggu konsentrasi. Ruangan yang terlalu sempit dapat membatasi gerakan tubuh saudara. Tetapi yang terlalu lebar dapat membuat presentasi tidak fokus. Mikrofon dan sound system yang tidak baik dapat mengganggu konsentrasi.

7. Biasakan interaktif.

Jangan asyik bicara sendiri. Berikan kesempatan peserta memberi contoh, jawaban, melakukan aktivitas tertentu (game, teka teki atau melakukan sesuatu), tertawa, atau bahkan mendengarkan musik.

8. Be specific.

Selalu berikan contoh dan ilustrasi. Sesekali berikan cerita.

9. Jangan merendahkan mutu.

Dengan mengatakan "maaf saya sebenarnya tidak siap", "maaf bahasa Inggris saya payah," "ini bukan bidang saya," "Anda pasti lebih tahu dari saya," "saya baru belajar," dan seterusnya. Manusia adalah mahluk yang malas yang hanya mau mendengarkan orang yang layak didengar, dianggap lebih tahu.

10. Latihan yang cukup.

Selalu mintalah umpan balik. Bila perlu rekam, putar kembali, minta pendapat dari orang dekat.

11. Perhatikan bahasa tubuh.

Jangan melakukan gerakan yang merusak penampilan.

12. Berpakaianlah agak cerah.
Agar Anda menciptakan kesegaran di dalam ruangan.

13. Jangan berbicara seperti sedang ngobrol dengan seseorang.

Ingatlah Anda berbicara di hadapan puluhan orang, kombinasikan bahasa resmi dengan bahasa percakapan yang layak.

READ MORE - Sukses Melakukan Presentasi

Yang Boleh dan Yang Tabu

Ahli komunikasi William D. Wells pernah menulis, komunikasi yang baik harus memenuhi rumus R.O.I. yaitu Relevance, Original, dan harus memberikan Impact. Katanya, "Jika tidak relevan, tidak jelas tujuannya. Jika tidak original, maka tidak akan menarik perhatian. Jika tidak mampu menimbulkan pengaruh yang kuat, tidak akan menimbulkan impresi yang tak berkesudahan."

Maka cobalah bangun impresi yang kuat dengan hanya menyampaikan hal-hal yang sifatnya original. Jangan ulangi hal yang sama untuk audience yang sama. Bisa jadi mereka akan mengatakan, "Sudah tahu...sudah tahu..." dan itu berarti anda harus berhenti. Percuma untuk diteruskan. Anda tidak bisa memaksa mereka duduk mendengarkan apa yang mereka sudah ketahui.

Tetapi adakalanya Anda akan berhadapan dengan mereka yang "sok tahu". Mereka cuma pernah mendengar judulnya, tetapi isinya sama sekali baru. Orang ini akan mengatakan sudah tahu, padahal sebenarnya belum. Ia tidak tahu bahwa ia tidak tahu. Terhadap audience seperti ini, anda memang harus berhati-hati, pertanyaannya bukan ingin dijawab, tetapi sekedar menunjuk bahwa ia tahu. Audience tentu akan berpihak kepada yang benar, yaitu yang punya kredibilitas lebih kuat. Kredibilitas, kata Mowen, adalah gabungan antara keahlian, dapat dipercaya, dan dipersepsi objektif.

Selain itu cobalah hindari menyinggung hal-hal yang tidak ingin didengar. Banyak pembicara yang kritis terhadap pemerintahan B.J. Habibie dengan menunjukkan kesalahan-kesalahannya. Begitu Habibie turun tahta, mereka tetap mempersalahkan pemerintah baru, padahal zaman sudah berubah dan rakyat sudah tak suka mendengar berita negatif lagi. Rakyat ingin mendengarkan hal-hal yang sifatnya optimis, perbaikan, bukan kedukaan, gagal, sedih, bangkai, api, dan sebagainya. Kita semua tahu semua masih sulit, tapi berikanlah pencerahan agar kita semua bisa bangkit lagi, jangan justru memperburuk keadaan.

READ MORE - Yang Boleh dan Yang Tabu

Pembukaan Yang Hangat

Sekecil apapun waktu yang Anda miliki untuk melakukan presentasi, selalu bukalah dengan sebuah kehangatan. Kehangatan hubungan akan sangat membantu penerimaan audience terhadap hal-hal yang akan saudara sampaikan. Lihatlah wajah semua orang yang akan mendengarkan presentasi saudara, apakah mereka masih memiliki wajah yang dingin, menunduk, enggan melihat saudara, saling berbisik, curiga, atau resah di tempat duduknya. Kalau ya, jangan nekad langsung pada materi, apalagi bila materi yang saudara sajikan garing, kurang bumbu, sulit dicerna, mengandung banyak hal teknis, atau mengandung hal-hal yang kurang enak didengar.

Berikut adalah tips untuk menciptakan kehangatan hubungan

1. Tunjukkan wajah yang bersahabat, ramah dan dekat. Lemparkan senyum dengan tulus, dan ulurkan tangan untuk berjabat dengan orang-orang yang berada di sekitar saudara. Jangan berlebihan, be natural. Latihlah diri saudara menjadi orang yang tulus dan bersahabat.

2. Bila audience tidak banyak, salami mereka semua. Bila memungkinkan, dan waktunya cukup, kalau belum saling mengenal, perkenalkan dulu diri saudara. Ada baiknya audience juga memperkenalkan diri masing-masing, secara singkat. Tunjukkan antusiasme dengan memandang wajah mereka, jangan asyik mencatat. Kalau saudara harus mencatat nama, catatlah dengan wajah ke depan, bukan ke kertas.

3. Bukalah dengan sebuah ilustrasi atau cerita yang sedang hangat dibicarakan, tetapi relevan dengan presentasi saudara. Jangan menyebarkan gossip, atau menyampaikan hal-hal yang menyinggung perasaan orang lain.

4. Batasi waktu pembukaan. Kalau waktu presentasi saudara hanya 20 menit, jangan mengambil lebih dari tiga menit untuk menciptakan kehangatan. Tetapi kalau saudara harus melakukannya sehari penuh, pembukaannya saja boleh 30 menit.

5. Objektifnya adalah mencairkan kebekuan dan saling curiga. Buatlah agar audience menaruh perhatian, melihat saudara, tersenyum, dan mata bercahaya. Boleh gunakan sedikit jokes, pengalaman, atau gambar-gambar yang relevan.

Prinsip-prinsip ini berlaku untuk suatu presentasi yang normal. Dalam hal-hal tertentu bisa saja saudara tak boleh menunjukkan keceriaan. Misalnya kapal hampir karam, orang banyak akan terkena PHK, ada kedukaan, pemecatan dan sebagainya. Dalam suasana yang demikian, saudara dituntut lebih serius dan empati terhadap keadaan. Banyak mengundang tawa justru dapat menjadi bumerang, tidak serius

READ MORE - Pembukaan Yang Hangat

Melihat Diri Sendiri

Ketika berada di program doktoral di Amerika, saya pernah mengurus izin untuk menjadi teaching assistant (TA). Bagi foreign student tentu hal ini tidak mudah. Mereka ingin mendapatkan yang terbaik. Maklum, di kampus ada banyak orang pintar, tapi sedikit sekali yang bisa mengungkapkan pikirannya dengan sistematis, jelas, persuasif, dan mengundang selera. Tambahan pula, mahasiswa sangat demanding 9banyak permintaannya). Pengajar asal Asia yang faktanya pintar-pintar, masih sering menerima komplain. Mahasiswa undergrad sering mengatakan," I don't understand your English."

Di lain pihak, minat untuk menjadi TA begitu besar. Maklum, selain bisa banyak belajar, gaji dan tunjangannya lumayan untuk menyambung hidup. Di samping itu, bebas uang kuliah. Tempaan terbesar bagi seorang kandidat doktor sebenarnya bukan di dalam kelas, tetapi bagaimana mengelola hidupnya agar tahan banting sampai semuanya selesai. Maka wajar kalau posisi TA selalu menjadi rebutan, dan yang sudah menggenggamnya masih harus berupaya keras mempertahankannya.

Seperti kandidat TA lainnya, saya harus mendapatkan lisensi. Artinya harus mengikuti serangkaian proses seleksi. Mulanya tes di lab. Di situ saja kesulitan sudah terasa. Kami diminta menjelaskan arti pohon, telepon, mobil dan sebagainya. Tak pernah terbayangkan oleh saya bagaimana menjelaskan benda-benda itu secara kreatif. Paling-paling kami hanya bisa mengatakan, pohon adalah tanaman yang ada daunnya, telpon adalah alat telekomunikasi, dan mobil untuk transportasi. Padahal setiap benda itu harus dijelaskan panjang lebar.

Di rumah, saya memperhatikan anak saya membuat karangan yang ditugaskan oleh gurunya di sekolah dasar. Saya sungguh terkejut karena ia bisa menjelaskan konsep benda-benda itu secara panjang lebar. Sementara saya adalah produk dari sebuah pendidikan hafalan, miskin dengan cerita, miskin dengan kemampuan mengungkapkan gagasan. Sejak itulah saya belajar, bahwa mengajar bukan cuma membuat definisi, tetapi membuat dunia ini lebih kaya dengan makna.

Meski dengan susah payah, toh akhirnya saya akhirnya lewat juga. Tetapi karena nilainya pas-passan harus melakukan appeal. Artinya minta diuji tim yang lebih besar. Pengujinya lima orang. Empat diantaranya adalah guru besar dari berbagai disiplin ilmu. Saya diminta mengajar lima belas menit, menjelaskan suatu konsep. Mereka minta diberlakukan sebagai mahasiswa. Alamak. Inikan seperti ujian disertasi saja. Muka mereka serius dan mereka pura-pura tidak mengerti apa yang kita sampaikan. Puji Tuhan akhirnya lewat juga. Mereka memberi selamat, dan sejak itu saya mulai menjadi TA.

Mengapa saya bisa selamat? Apakah karena sebelumnya saya sudah berpengalaman sebagai dosen? Dengan jujur harus saya jawab tidak.
Beberapa bulan sebelum peraturan untuk mendapatkan lisensi sebagai TA keluar saya pergi ke English Building, mencari guru. Beruntung ada seorang guru muda, wanita yang cantik dan baik hati. Di sana ia mengajar English for Teaching Assistant. Ia memberi saya beberapa buah buku, dan seminggu tiga kali ia meluangkan waktu untuk melatih saya. Ia menunjukkan betapa sulitnya foreign student mengatasi masalah itu. Saya diajak melihat bagaimana mahasiswa dari Cina, Taiwan, Korea dan Jepang bekerja keras melatih dirinya. Bahkan berbicara saja mereka masih sulit. Di tangannya selalu tergenggam kamus yang berisi huruf kanji.

Pelajaran paling berharga datang ketika ia membawa camcorder. Ia merekam seluruh isi presentasi saya, termasuk bahasa tubuh saya. Itulah kesempatan yang baik untuk melihat diri sendiri. Rekaman itu saya putar berulang-ulang. Guru saya memberi tahu bagian mana yang harus diperbaiki, dan saya mencoba menghayatinya. Kami memolesnya, bukan cuma sistematika dan logika, tetapi juga tone suara, speed, dan tentu saja bahasa tubuh, termasuk gerakan tangan, leher, dan pancaran mata. Melihat diri sendiri adalah alat yang sangat baik untuk memoles diri. Daripada menggunakan cermin, lebih baik merekamnya, cari guru yang mau mendengarkan dan memoles, lalu perbaiki perlahan-lahan. Kelak presentasi saudara akan jauh lebih baik dari hari ini.

READ MORE - Melihat Diri Sendiri

MOOD

Mood, kata ahli prilaku John C. Mowen, bukanlah merupakan bagian dari kepribadian, melainkan suatu keadaan perasaan yang muncul sewaktu-waktu (transient) pada situasi tertentu. Durasinya pendek, dan tidak berlangsung secara persisten. Celakanya, kata Mowen lagi, mood berpengaruh besar terhadap daya ingat (recall of information) seseorang. Ketika seseorang sedang sedih ia akan ingat hal-hal yang menyedihkan, dan ketika ia senang ia akan lebih banyak ingat pada hal-hal yang menyenangkan. Hal-hal inilah yang dikomunikasikan seseorang pada situasi tertentu.

Oleh karenanya menjadi tugas penyelenggara-lah menjaga mood presenter yang diundang untuk berbicara. Adalah keliru bila saudara beranggapan professional speaker sebagai mesin tanpa mood. Kadang ditemui panitia seminar yang hanya tertarik dengan uang, yaitu berapa jumlah peserta yang membayar dan berapa ia harus membayar presenter. Mereka berpikir uang dapat mengatasi semua itu. Ketika presenter kehilangan mood, dan tidak jadi hadir, ia lalu protes.

Dapatkah Anda bayangkan bagaimana seseorang yang harus berbicara sehari penuh dalam sebuah seminar kehilangan mood? Saya pernah melakukan safari beberapa kali keliling kota sebulan penuh. Dalam beberapa kesempatan moderatornya berganti dua kali, tetapi pembicara tetap seorang diri. Pekerjaan ini tentu amat meletihkan. Hari Senin kami berada di Pontianak, Selasa siang terbang ke Balikpapan, dan esok paginya berseminar di sana. Jum'at kami sudah berada di Makasar, dan Senin minggu berikutnya satu hari penuh memberi seminar di Manado. Begitu seterusnya selama sebulan.

Sekarang saya baru merasakan, betapa meletihkannya perjalanan itu. Tanpa motivasi yang kuat dan mood yang menyenangkan, rasanya sulit hal itu dilakukan. Yang jelas sekarang ini saya selalu bertemu dengan orang yang punya stempel kuat di kepalanya bahwa saya adalah orang yang selalu berkeliling. Hampir dalam setiap pertemuan saya selalu mendapat pertanyaan, "Sedang keliling kemana sekarang?" Padahal sehari-hari saya banyak di Jakarta dan aktif di UI.

Hal-hal apakah yang harus dilakukan untuk menjaga mood seorang pembicara?

Berikut adalah tips yang wajib dipahami setiap penyelenggara seminar.

  1. Tulislah nama pembicara dengan benar, dengan gelar yang tepat. Adalah fatal membuat iklan dengan nama yang ejaannya salah, posisi (jabatan) yang tidak benar, apalagi mencetak nama yang salah dalam plakat atau sertifikat.

  1. Jemputlah pembicara dengan orang yang tepat. Jangan mengutus orang yang banyak bicara, tidak sopan, tidak rapih, apalagi yang memiliki aroma yang kurang sedap.

  1. Tawarkan lunch atau dinner bersama, dan tunjukkan bahwa saudara tidak hanya tertarik dengan materi yang akan disajikan. Ini bukan hubungan transaksional yang putus begitu saja begitu transaksi selesai, melainkan suatu hubungan yang sifatnya jangka panjang (relational).

  1. Tanyakan apakah ada yang hendak dikunjungi selama berada di kota saudara. Bila diperlukan tawarkan fasilitas yang mungkin saudara miliki, atau setidaknya berikan informasi bagaimana menyewa kendaraan di hotel.

  1. Berikan informasi yang jelas mengenai latar belakang audience, ruangan, moderator dan bagaimana acara akan dipandu.

  1. Jangan sesekali ingin memeras tenaga dan pikiran presenter dengan mengundang banyak pejabat atau pengusaha makan malam bersama, karena mereka pasti akan mengajukan pertanyaan yang berat-berat sehingga terkesan konsultasi. Berikan suasana relax, bicarakan hal-hal yang menyenangkan saja. Undang kalangan terbatas dalam suasana yang bersahabat. Jangan pula berniat mengambil untung dengan menampilkan pembicara pada acara lain yang saudara miliki pada hari yang sama tanpa melakukan pembicaraan yang fair sebelumnya.

Dengan mood presenter yang positif saudara pasti akan memperoleh manfaat yang besar, audience yang puas, dan tentu saja kegiatan yang pasti dapat dilaksanakan dengan baik. Kalau sudah begitu jangan khawatir, presenter pasti akan datang, dan setiap saudara melakukan hubungan pasti akan diterima dengan senang hati. Uang tak selalu bisa membeli mood.

READ MORE - MOOD

KISS [Keep It Simple, Stupid!]

Mendengarkan ceramah atau presentasi dari orang-orang terkenal sungguh menyenangkan. Saya termasuk beruntung, dalam perjalanan hidup saya pernah mendengarkan ceramah dari beberapa penerima hadiah Nobel. Mereka bukan cuma pandai mengungkapkan gagasannya secara tertulis, tetapi juga pandai bercerita. Bagi saya mereka adalah orang-orang yang benar-benar pandai. Alur ceramahnya enak dinikmati, dan kita semua dapat mengikutinya dengan baik. Dengan kata lain, mereka mampu membuat hal yang rumit menjadi sederhana.

Suatu ketika di program doktoral kami kedatangan seorang peneliti terkenal. Ia diundang oleh salah seorang guru besar kami yang memimpin sebuah seminar interdisiplin yang disponsori oleh Ford Foundation. Karena topiknya menarik, maka banyak kandidat doktor dan profesor hadir di sana. Ternyata lima belas menit pertama cukup membosankan. Ia melantur ke sana kemari. Papan tulis mulai penuh dengan kata-kata yang ditulis tanpa rangkaian yang jelas.

Tanpa saya duga, adviser saya, yang kebetulan teman dekat presenter itu mengirim notes ke depan. Ia menulis: KISS. Lalu di bagian bawahnya ada tulisan jelas: Keep it Simple, Stupid! Presenter yang membaca notes itu tersenyum, lalu ia minta maaf, karena ceramahnya melantur. Ia menghapus papan tulis, lalu menulis sistematika penyajiannya.

Sejak 2000 tahun yang silam, filsuf Yunani, Plato, sudah mengatakan, presentasi yang baik hanya terdiri dari tiga bagian: pembukaan, isi, dan penutup. Maka, pidato apapun, baik hanya dua menit dalam acara perkawinan (ingat, orang datang ke perkawinan bukan ingin mendengarkan pidato saudara, tapi menyelamati pengantin dan keluarganya), atau satu-dua jam ceramah, isinya tetap sama. Buatlah alur penyajian mengalir dengan sederhana, mudah diikuti semua orang, dan jelas kemana tujuannya.

Pembukaan sebaiknya menjelaskan Anda akan kemana. Pembukaan juga harus menarik perhatian, menciptakan kehangatan, dan saling percaya. Bagain ini hanya boleh menyita 10% dari seluruh ceramah. Sedangkan inti ceramah (isi) dapat dibagi ke dalam beberapa bagian, biasanya disebut main points. Setiap main point itu harus dijelaskan secara spesifik, bila perlu berikan contoh agar lebih membumi. Isinya menghabiskan 70-80% dari seluruh isi presentasi saudara. Lalu tutuplah dengan menyajikan kesimpulan untuk menekankan hal-hal yang penting.

Beberapa hal yang dapat dianjurkan agar saudara dapat menyajikan dengan baik adalah sebagai berikut:

  1. Jangan terlalu ambisius menyajikan banyak hal dalam tempo yang singkat

  1. Buanglah bagian-bagian yang dapat menimbulkan keragu-raguan, atau memerlukan penjelasan panjang lebar dalam tempo yang singkat.

  1. Gunakanlah contoh-contoh yang dekat dengan pendengar. Kalau diambil contoh dari luar negri, jangan lupa berikan sedikit konteksnya.

  1. Pelajari betul daya serap audience, bila perlu gunakan bahasa yang sederhana.

  1. Gunakan gambar, atau cerita untuk memperkaya imajinasi.

Tak ada yang dapat dimengerti di dunia ini selain sebuah presentasi yang alurnya enak diikuti. Kalau saudara bisa mengendalikan diri menyederhanakan otak saudara dengan lebih baik, maka dunia akan mendengarkan saudara. Kita di Indonesia masih sering berpikir terbalik dengan menyangka orang-orang yang pikirannya ruwet sebagai orang pintar. Padahal mereka bukan pintar, mereka hanya asyik dengan pikirannya sendiri.

READ MORE - KISS [Keep It Simple, Stupid!]

Jangan Diskon Diri Sendiri

Tak banyak orang yang mampu membedakan mana rendah hati dan mana rendah diri. Rendah hati adalah suatu sikap hidup yang diambil untuk tidak menyombongkan diri. Sedangkan rendah diri adalah ketidakmampuan berdiri sama tinggi dengan orang di sekitar. Banyak pemula yang tak dapat membedakannya ketika melakukan presentasi.

Saudara diminta melakukan presentasi karena saudara dianggap mampu dan memiliki sesuatu yang dapat disampaikan. Untuk sampai ke sana, saudara telah melewati sejumlah peristiwa dalam kehidupan yang membuat saudara menjadi pandai. Yakinkan betul bahwa saudara diminta karena saudara memiliki sesuatu. Maka berdirilah sama tinggi dengan orang-orang itu, jangan merasa terlampau tinggi di hadapan mereka, atau terlampau rendah. Anda hanya sedikit lebih tinggi di atas mereka karena sudah mengalaminya, mempelajari atau membaca topiknya lebih dahulu. Tetapi hendaknya jangan mendiskon pula diri saudara.

Untuk mau mendengar, audience harus diyakinkan dahulu bahwa saudara cukup kredibel untuk berbicara. Sedangkan diskon, menurunkan semua itu. Diskon itu biasanya diucapkan dalam bentuk:

  1. Permohonan maaf bahwa saudara sebenarnya tidak siap melakukan presentasi hari itu.

  1. Topik yang disampaikan bukan bidang saudara. Lalu saudara mengatakan "sebenarnya audience yang mendengarkan jauh lebih mengerti dari saya." Pembukaan yang demikian justru akan mengundang ujian, bukan pertanyaan biasa.

  1. Mengatakan bahwa saudara hanya menjalankan tugas pengganti karena bos tak bisa hadir. Saudara harus yakin, bahwa bos memang tak bisa hadir, tapi bos sudah memilih orang yang tepat untuk mewakilinya.

  1. Enggan berpikir, dengan sering mengatakan bahwa saudara tidak tahu, belum baca,tidak dapat membayangkan dan sebagainya. Mereka tentu tidak berharap telah mengundang orang yang salah, yang tidak tahu apa-apa. Kalau memang saudara banyak tidak tahu, lebih baik tidak usah saja menerima undangan presentasi itu. Atau, tandem-lah (terjun bareng) dengan orang yang lebih tahu.

Prinsip ini mengajarkan bahwa presentasi membutuhkan kesiapan, hanya mereka yang benar-benar siap untuk maju, harus maju ke depan. Tetapi ketika di depan ia harus betul-betul meyakinkan dan percaya diri. Belajarlah selalu dari pengalaman dan kesalahan yang diperbuat. Mistakes is the mother of invention.

READ MORE - Jangan Diskon Diri Sendiri
Tips Menghindari Penipuan Berkedok Asuransi

Pemilik (Cadangan) Emas Terbesar Dunia, Indonesia Di nomor 37

Mengintip Tips Perjalanan Para Eksekutif Bisnis

Blue Ocean Strategy

Tips Membeli Emas Batangan, Emas Perhiasan & Emas Putih

Sales People: Amatir VS Professional

7 Kesalahan Terbesar dalam Marketing

Keterampilan Dasar Sales: Sudahkah Anda Miliki?

10 Konsep Marketing untuk Usaha Kecil

Peluang Usaha di Tahun 2010 yang Bakal Exis

8 Point Sederhana untuk Merebut Peluang Bisnis

9 Langkah Sukses Entrepreneur

10 Cara Efektif Mengurangi Hutang-Hutang Anda

Wanita-Wanita Berpengaruh dalam Bisnis

Kiat Sukses Usaha Waralaba

Bagaimana Mendanai Usaha?

Mengapa Hanya Sedikit Orang yang Sukses ?

Investasi di Bisnis Online, Kenapa Tidak?

Tak Takut Kaya, Tak Takut Miskin

Membuat Pelanggan Senang Berbelanja di Toko Anda

Tips Meningkatkan Pendapatan Adsense

Kunci Menuju Great Customer Service

Menciptakan Service Excellence Untuk Layanan Online

4 Kunci Utama dalam Melayani Pelanggan

Mengenali Faktor-faktor Kepuasan Pelanggan

Cara Memasarkan Produk Bisnis Online

Tips Bisnis Online Pemula :)

Tips Memulai Usaha Makanan

Tips Membangun Bisnis Cafe

Karakteristik Pengusaha Sukses

7 Tips Menjalankan Peluang Usaha Rumahan

Sukses Mengelola Wirausaha/Bisnis Online

Tips Cerdas dan Aman Memilih Asuransi

Tips Ampuh Menghapus Hutang Kartu Kredit

Tips Cerdas Menjadi Seorang Jutawan

5 Aspek Kesuksesan

5 Hukum Investasi Sepanjang Masa

Usaha Dengan Modal di Bawah 1 Juta

Pilih Investasi yang Menguntungkan

Inilah Siklus Karir Anda

4 Modal Menjadi Entrepreneur (Ternyata Bukan Uang)

Bagaimana Menjadi Komunikasi Yang Handal

Bodoh VS Pintar ala Bob Sadino

Contoh Usaha Mandiri

Apakah Mimpi Anda di Dalam Hidupmu?

How To Start a Business

Pilih Cara Mana Menerjuni Dunia Bisnis?

Memulai Usaha Sendiri

Cara Mem-Franchise-kan Usaha Anda