Showing posts with label Tips Management. Show all posts
Showing posts with label Tips Management. Show all posts

16 Tipe Manager

KARAKTER dapat memengaruhi kepribadian, kehidupan dan suasana dimana seseorang bekerja. Menurut karyawannya, si Polan, seorang manajer bersifat tenang, pendiam dan analitis. Maka dapatlah ditebak dalam tugas sehari-harinya, pasti ia lebih menginginkan suatu hal yang pasti, selalu berhati-hati dan serius dengan pekerjaannya.


“ESFJ dibicarakan disini.” Terbaca suatu pesan diatas meja seorang akuntan pada Compass Computer Service di Dallas. Hal ini disebabkan karena bosnya mempunyai sifat “ISTJ”. Singkatan huruf-huruf tersebut dapat juga dijumpai pada puncak gedung Trans America di San Franscisco, Naval Surface Weapon Centre di dekat Washington dan juga terlihat pada kantor pusat Virginia Power Co. di Richmond. Bahkan sebuah iklan yang memuat ruang biro jodoh di Amerika Serikat menulis “seorang perempuan yang bertipe ENFP mencari pasangan hidup yang bertipe INTJ”!

Apakah yang dimaksud dengan singkatan-singkatan huruf tersebut? Inisial-inisial misterius ini bukanlah lambang dari suatu aliran kepercayaan, tetapi keempat huruf yang tergabung menjadi satu ini adalah singkatan dari teori tipe-tipe manusia yang bersifat psikologis. Kombinasi huruf-huruf yang mengungkapkan kepribadian yang dimiliki oleh setiap orang itu, pertama kali dibahas oleh seorang psikolog Swiss, Carl Jung, pada tahun 1921. Kemudian digunakan serta dikembangkan dalam sebuah kursus, oleh sebuah tim yang terdiri dari ibu dan anak, Katherine Briggs dan Isabel Briggs Myers, setelah Perang Dunia ke II di Amerika Serikat.

Secara lahiriah, setiap orang mempunyai kecenderungan untuk bersifat extrovert atau introvert, sensing atau intuitive, thinking atau feeling serta perceiving atau judging. Extrovert berorientasi pada sifat-sifat lahiriah seseorang, sedang introvert berasal dari dalam yang menyangkut ide dan perasaan. Sifat sensing condong merinci seluk beluk suatu hal. Sementara intuitive membahas suatu hal secara garis besar. Seorang pemikir ( a thinker) biasanya memutuskan hal-hal dengan logis dan objektif, seorang perasa (a feeler) memutuskan suatu hal dengan subjektif. Tipe perceiving cenderung untuk bertindak fleksibel dan mencari informasi yang lebih banyak, sedangkan tipe judging menginginkan sesuatu berjalan berdasarkan pertimbangan.

16 Tipe Manajer
Dalam kursus yang telah berjalan selama 20 tahun, Briggs dan Myers mengembangkan suatu test preferensi yang menunjukkan kepribadian individu. Tes ini tidak mengukur intelegensi, motivasi, kedewasaan, atau kesehatan mental seorang manajer. Teori dari kursus ini membagi manusia menjadi 16 Tipe Kepribadian yang berbeda, sesuai dengan 4 dimensi yang telah ditentukan. Setiap tes MBTI – Myers Briggs Type Indicator, petunjuk tipe Myers Briggs mempunyai 100 pertanyaan tentang apa dan bagaimana yang dirasakan, serta yang akan dilakukan oleh seseorang dalam situasi tertentu. Contohnya, dalam sebuah acara perkenalan, apakah seseorang sering terlebih dahulu memperkenalkan dirinya atau menunggu untuk diperkenalkan. Karena sifat extrovert cenderung untuk memperkenalkan dirinya terlebih dahulu, sedangkan introvert condong untuk diperkenalkan.

Apakah seorang manajer mempunyai suatu tugas yang bervariasi, atau suatu tugas yang monoton/rutin? Sebab tipe judging condong menerima tugas yang bervariasi dan tipe perceiving cenderung pada tugas rutin. Apakah seorang manajer lebih suka bekerja sama dengan seseorang yang ramah dan berterus terang? Tipe feeling senang pada karyawan yang ramah dan tipe thinking lebih suka kepada karyawan yang berterus terang. Dari penyelidikan tes MBTI dinyatakan 60% manajer pada umumnya adalah pemikir.

Menurut penerbit buku test MBTI – Consulting Psychologist Press di Palo Arto, California, 1,5 juta masyarakat di Amerika Serikat mengikuti tes MBTI. Tes ini sangat populer di Amerika Serikat. Peserta dari tes ini bukan hanya perusahaan-perusahaan seperti Allied-Signal, Apple, AT&T, Citicorp, Exxon, dan lain sebagainya, tetapi juga digunakan di rumah sakit, angkatan bersenjata Amerika Serikat dan bahkan gereja.

Ke 16 Tipe Kepribadian Manajer tersebut ialah :
ISTJ : Introvert, Sensing, Thinking, Judging ; Tipe ISTJ mempunyai sifat serius, tenang, penuh konsentrasi dan logis. Seorang manajer yang bertipe ISTJ bertanggung jawab penuh dalam pekerjaannya dan segala tugasnya dikerjakan dengan praktis berdasarkan fakta yang ada.

ISFJ : Introvert, Sensing, Feeling, Judging ; Tipe ISFJ mempunyai sifat tenang, ramah, bertanggung jawab, teliti, setia dan baik budi. Tipe ISFJ mengungkapkan seorang manajer yang tekun bekerja untuk menyelesaikan tugas-tugasnya.

ISTP : Introvert, Sensing, Thinking, Perceiving ; Tipe ISTP mempunyai sifat tenang, pendiam dan analitis. Manajer bertipe ISTP merupakan manajer yang melaksanakan tugasnya dengan serius dan teliti.

ISFP : Introvert, Sensing, Feeling, Perceiving ; Tipe ISFP mempunyai sifat malu, sangat ramah, sensitive dan rendah hati. Manajer bertipe ISFP adalah pekerja yang setia, tidak suka berdebat dan sering mengerjakan tugasnya dengan rileks.

ESTP : Extrovert, Sensing, Thinking, Perceiving ; Tipe ESTP mempunyai sifat tidak tergesa-gesa, penerima dan tidak sensitif. Tipe ini mengungkapkan seorang manajer yang tidak “ngoyo” dalam pekerjaan.

ESFP : Extrovert, Sensing, Feeling, Perceiving ; Tipe ESFP mempunyai sifat ramah, tidak suka repot, humoris, dan mudah beradaptasi. Tipe ini menyatakan seorang manajer yang lebih mengutamakan kenyataan daripada teori dalam pekerjaannya.

ESTJ : Extrovert, Sensing, Thinking, Judging ; Tipe ESTJ mempunyai sifat praktis, realistis dan tidak suka berkhayal. Manajer bertipe ESTJ tidak tertarik pada hal-hal yang tidak berguna, senang berorganisasi dan melakukan segala aktivitas.

ESFJ : Extrovert, Sensing, Feeling, Judging ; Tipe ESFJ mempunyai sifat ramah, suka bicara, teliti, dan memimpin. Dalam melakukan pekerjaannya, manajer bertipe ESFJ ini memerlukan keharmonisan dan dukungan semangat. Ia tertarik pada pemikiran yang abstrak.

INFJ : Introvert, Intuitive, Feeling, Judging ; Tipe INFJ ini mempunyai sifat sering memaksa, teliti, sering ikut campur dan tekun. Tipe ini adalah tipe manajer yang tekun bekerja dan terkenal dengan buah pikirannya yang cemerlang.

INTJ : Introvert, Intuitive, Thinking, Judging ; Tipe INTJ mempunyai sifat ragu-ragu, kritis, bebas dan keras kepala. Tipe manajer ini dapat menyalurkan ide, dan pikirannya yang cemerlang dalam pekerjaannya.

INFP : Introvert, Intuitive, Feeling, Perceiving ; Tipe INFP mempunyai sifat senang mempelajari sesuatu yang baru, ramah dan mudah dipercaya. Tipe ini mengungkapkan manajer tersebut senang bekerja.

INTP : Introvert, Intuitive, Thinking, Perceiving ; Tipe INTP mempunyai sifat tenang, pendiam dan apatis. Tipe ini ialah tipe manajer yang senang melakukan tugasnya berdasarkan teori.

ENFP : Extrovert, Intuitive, Feeling, Perceiving ; Tipe ENFP bersifat antusias, bersemangat tinggi, banyak akal dan imajinatif. Seorang manajer yang mampu melakukan semua tugas yang diberikan kepadanya. Ia dapat membantu memecahkan problem perusahaan.

ENTP : Extrovert, Intuitive, Thinking, Perceiving ; Tipe ENTP ini bersifat cepat dan banyak akal. Tipe ini adalah tipe manajer yang senang berdebat dan mengabaikan tugas yang dianggapnya rutin.

ENFJ : Extrovert, Intuitive, Feeling, Judging : Tipe ini bersifat ramah, populer, dan sensitif terhadap pujian maupun kritik. Tipe manajer ini adalah tipe seseorang yang mau mendengarkan pendapat dan merasakan kesulitan orang lain.

ENTJ : Extrovert, Intuitive, Thinking, Judging ; Tipe ini bersifat ramah, berterus terang, tegas dan berjiwa pemimpin. Ini adalah tipe seorang manajer yang menghargai suatu alasan yang tepat dan masuk akal. Pemecah masalah.

Banyak perusahaan menggunakan proses MBTI dalam program mengembangkan manajemen mereka untuk menolong para manajer agar lebih mengetahui karakter mereka yang sesungguhnya, dan mengerti pendapat orang lain serta menciptakan kerja sama yang baik. Disamping itu, tes ini juga berguna untuk memberi pekerjaan, evaluasi prestasi dan negosiasi perencanaan pemasaran, dalam suatu perusahaan. Anda termasuk yang mana?
READ MORE - 16 Tipe Manager

Strategi Penggunaan Waktu Efektif ala Peter Drucker

Mengelola waktu kita ialah hal terpenting yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan keefektifan tetapi banyak dari kita yang justru tidak pandai dalam mengelola waktu.

Pemikir manajemen dan bisnis, Peter Drucker, mengemukakan bahwa untuk menyelesaikan pekerjaan, pemimpin perlu waktu dalam jumlah banyak. Agar menjadi efektif, kata Drucker, setiap eksekutif harus mampu menghabiskan waktu dalam jumlah yang cukup banyak. Untuk menghabiskan waktu dalam jumlah kecil sebagai penyelesaiannya tidak akan mencukupi bahkan jika jumlah keseluruhan mencapai jumlah jam yang mencengangkan. Hal ini terutama berlaku untuk waktu yang dihabiskan untuk bekerja dengan orang.

Drucker menganjurkan untuk membuang hal-hal yang tidak perlu dilakukan. Tanyakan pada diri sendiri pertanyaan ini, "Apa yang akan terjadi jika semua ini tidak bisa selesai?" Dan jika jawabannya ialah tidak akan terjadi apa-apa kesimpulannya ialah segera berhenti melakukannya.

Pertanyaan berikutnya ialah, "Aktivitas yang manakah dalam catatan waktu saya yang bisa dilakukan oleh orang lain dengan sama baiknya, jika tidak bisa dengan lebih baik?" Akhirnya, pemimpin harus menanyakan pada dirinya sendiri jika mereka menghabiskan waktu orang lain tanpa tujuan yang jelas. Eksekutif yang efektif telah belajar untuk bertanya secara sistematis dan tanpa kepura-puraan. "Apa yang saya lakukan yang membuang waktu Anda tanpa memberi kontribusi kepada keefektifan Anda?"

Drucker membuat daftar tentang faktor-faktor yang membuang waktu dalam perusahaan sebagai “krisis yang terus menerus berulang” – sebuah kejadian yang selalu berulang bahwa perusahaan tidak belajar untuk menghadapinya secara sistematis, dan ‘malorganisasi’, yang gejala utamanya ialah rapat berlebihan. Ia juga berpendapat bahwa memiliki terlalu banyak staf juga bisa menyebabkan pembuangan waktu. “Orang saling menghalangi satu sama lain. Dalam sebuah perusahaan yang stafnya sedikit, orang memiliki ruang untuk bergerak tanpa harus bertabrakan satu sama lain dan bisa melakukan pekerjaannya tanpa harus menjelaskan sepanjang waktu.”

Tentukan prioritas utama dan kelola waktu Anda berdasarkan prioritas itu. Analisis bagaimana Anda menghabiskan waktu Anda. Tinggalkan hal-hal yang tidak perlu dilakukan, hal-hal yang bisa dilakukan orang lain dan waktu yang Anda bisa habiskan dengan orang lain yang tidak produktif. Temukan kesalahan dalam perusahaan yang membuang waktu orang lain: kurangnya sistem dan pandangan ke depan; terlalu sering rapat; dan mungkin terlalu banyak staf. Konsolidasikan waktu luang Anda menjadi bagian-bagian yang bisa dimanfaatkan.
READ MORE - Strategi Penggunaan Waktu Efektif ala Peter Drucker

10 Kesalahpahaman Tentang Sukses

Setiap manusia memiliki pandangan yang berbeda tentang kesuksesan, terkadang sebagian orang tidak memiliki pandangan yang jelas tentang kesuksesan itu sendiri. Dibawah ini ada 10 kesalahpahaman orang-orang tentang kesuksesan. Jika sobat-sobat memiliki tambahan silahkan berpartisipasi di kotak komentar:

Kesalahpahaman 1

Beberapa orang tidak bisa sukses karena latar belakang, pendidikan, dan lain-lain. Padahal, setiap orang dapat meraih keberhasilan. Ini hanya bagaimana mereka menginginkannya, kemudian melakukan sesuatu untuk mencapainya.

Kesalahpahaman 2

Orang-orang yang sukses tidak melakukan kesalahan. Padahal, orang-orang sukses itu justru melakukan kesalahan sebagaimana kita semua pernah lakukan Namun, mereka tidak melakukan kesalahan itu untuk kedua kalinya.

Kesalahpahaman 3

Agar sukses, kita harus bekerja lebih dari 60 jam (70, 80, 90...) seminggu. Padahal, persoalannya bukan terletak pada lamanya anda bekerja. Tetapi bagaimana anda dapat melakukan sesuatu yang benar.

Kesalahpahaman 4

Anda hanya bisa sukses bila bermain sesuatu dengan aturan. Padahal, siapakah yang membuat aturan itu? Setiap situasi membutuhkan cara yang berbeda. Kadang-kadang kita memang harus mengikuti aturan, tetapi di saat lain andalah yang membuat aturan itu.

Kesalahpahaman 5

Jika anda selalu meminta bantuan, anda tidak sukses. Padahal, sukses jarang sekali terjadi di saat-saat vakum. Justru, dengan mengakui dan menghargai bantuan orang lain dapat membantu keberhasilan anda. Dan, sesungguhnya ada banyak sekali orang semacam itu.

Kesalahpahaman 6

Diperlukan banyak keberuntungan untuk sukses. Padahal, hanya dibutuhkan sedikit keberuntungan. Namun, diperlukan banyak kerja keras, kecerdasan, pengetahuan, dan penerapan.

Kesalahpahaman 7

Sukses adalah bila anda mendapatkan banyak uang.Padahal, uang hanya satu saja dari begitu banyak keuntungan yang diberikan oleh kesuksesan. Uang pun bukan jaminan kesuksesan anda.

Kesalahpahaman 8

Sukses adalah bila semua orang mengakuinya. Padahal, anda mungkin dapat meraih lebih banyak orang dan pengakuan dari orang lain atas apa yang anda lakukan. Tetapi, meskipun hanya anda sendiri yang mengetahuinya, anda tetaplah sukses.

Kesalahpahaman 9

Sukses adalah tujuan. Padahal, sukses lebih dari sekedar anda bisa meraih tujuan dan goal anda. Katakan bahwa anda menginginkan keberhasilan, maka ajukan pertanyaan "atas hal apa?"

Kesalahpahaman 10

Saya sukses bila kesulitan saya berakhir. Padahal, anda mungkin sukses, tapi anda bukan Tuhan. Anda tetap harus melalui jalan yang naik turun sebagaimana anda alami di masa-masa lalu. Nikmati saja apa yang telah anda raih dan hidup setiap hari sebagaimana adanya.

Source:
READ MORE - 10 Kesalahpahaman Tentang Sukses

Mengapa Pekerja Kreatif Lebih Stress?

Orang yang memiliki indeks kreatif tinggi kerap merasa kewalahan dengan pekerjaan mereka.

Tuntutan terkait pekerjaan kreatif menciptakan tekanan lebih terhadap pekerjanya dibandingkan pekerjaan lainnya.

Para peneliti menemukan, orang yang memiliki indeks kreatif tinggi mengalami tekanan lebih besar dan merasa kewalahan dengan pekerjaan mereka. Pekerja kreatif juga lebih sering menerima pekerjaan yang berhubungan dengan kontak (email, teks, panggilan) di luar jam kerja normal.

Hasil tersebut didasarkan pada Penelitian Universitas Toronto yang menganalisa data 1.200 pekerja Amerika pada 2009. Mereka mengukur sejauh mana orang-orang yang terlibat dalam aktivitas kerja kreatif.

Pemimpin studi Scott Schieman mengungkap pekerja dengan tekanan lebih besar melakukan banyak pekerjaan (multitasking). Mereka akhirnya membawa pekerjaan ke rumah dan mencoba menyelesaikannya bersamaan dengan tugas rumah tangga. "Akibat multitasking, terdapat konflik antara pekerjaan dan peran dalam keluarga," katanya seperti dikutip laman Idiva.

Schieman menuturkan, "Unsur stres dalam kerja kreatif umumnya dipandang kebanyakan orang sebagai sesuatu yang positif. Namun, menggabungkan pekerjaan dengan kehidupan dapat mengaburkan batasan di antara keduanya yang bisa menciptakan stres tersendiri."

Penelitian ini juga menemukan, orang dengan skor indeks kreatif lebih tinggi cenderung tetap memikirkan pekerjaan mereka di luar jam kerja normal. Namun, ketika ini terjadi, banyak orang mengaku hal tersebut tidak memberatkan pikiran mereka.

"Ada aspek kerja kreatif yang dinikmati karena menunjukkan keberhasilan dan kepuasan. Hal ini berbeda dari stres akibat tenggat waktu, orang lain yang tidak kompeten atau pekerjaan rutun yang tidak menantang," katanya.
READ MORE - Mengapa Pekerja Kreatif Lebih Stress?

7 Alasan Anda Harus Memulai Program Afiliasi

Ini salah satu yang bikin gw ikut bisnis afiliasi :

Oleh Bob Julius Onggo


Anda punya situs web? Terbiasa dengan komunikasi via email? Mengapa tidak yang satu ini yaitu dengan mengikuti program bisnis afiliasi? Yaitu untuk menambah uang Anda.

Ada begitu banyak kesempatan bisnis di Internet. Hampir semuanya memang membutuhkan dana. Tetapi, tidak dengan program afiliasi!

Berikut ini adalah 7 alasan mengapa anda harus mempertimbangkan untuk bergabung dengan progran afiliasi dari rumah anda.

1.Bergabung dengan program afiliasi tidak perlu mengeluarkan dana. Benar-benar tidak perlu! Anda dapat bergabung dengan sebuah program afiliasi tanpa harus mengeluarkan biaya dan dapat segera mempromosikan produk anda.

2.Sarana dan prasarana untuk pemasaran lewat internet sudah disediakan untuk anda. Sebuah situs web yang menawarkan program afiliasi yg 'bagus' pasti akan memberikan banyak sarana afiliasi pemasaran yang bersifat 'siap pakai'. Anda hanya tinggal meng- 'copy dan paste' dan memasukkan kode afiliasi anda. Kemudian, mulailah menjual.

3. Anda tidak butuh sebuah produk. Akan menghabiskan BANYAK waktu untuk mengembangkan produk anda untuk dijual secara online. Dengan program afiliasi, produk tersebut sudah ada di sana. Orang lain yang akan mengerjakannya, bukan anda.

4. Statistik afiliasi sudah disediakan sebagai bagian dari sistem mereka, karena Anda bergabung dengan program afiliasi. Anda tidak perlu pergi dan membeli perangkat lunak yang mahal untuk melacak penjualan anda karena pemilik produk sudah menyiapkannya untuk anda. Anda bahkan tidak perlu membayarnya, gratis!

5. Tidak dibutuhan waktu untuk memulainya. Kebanyakan bisnis butuh suatu waktu dalam fase 'start up'. Dengan program pemasaran afiliasi, maka anda tidak membutuhkan waktu 'start up' itu semua lagi. Pada waktu anda bergabung, anda dapat langsung menjual.


6. Anda tidak perlu kuatir lagi berkenaan administrasi penjualan dan dukungan teknis lainnya. Pemilik produk sudah akan mengurus proses penjualannya dan semua layanan purna jual. Yang hanya perlu anda kuatirkan adalah menerima cek afiliasi anda!

7. Anda tidak perlu kuatir untuk kontak langsung pelanggan Anda. Di dalam sebuah program pemasaran afiliasi, anda adalah seorang 'reseller' sehingga jika pelanggan mengajukan komplain mereka akan menghubungi pemilik produk, dan bukan anda.

Bergabung dengan program afiliasi sangat sederhana, mudah untuk mulai mempromosikan dan lebih daripada itu semua Anda tidak akan rugi atau harus memiliki modal. Jika salah satu program afiliasi tersebut tidak berjalan, anda dapat meninggalkannya dan bergabung dengan program afiliasi lainnya.

Bob Julius Onggo adalah Chief editor pada situs webnya, sekaligus sebagai pembicara di berbagai seminar dan forum pemasaran dan bisnis online, dan kolomnis tetap di majalah InfoNet sekarang InfoKomputer dan Bisnis Komputer serta pemulis di Majalah Warta Ekonomi juga artikelnya dijumpai di Majalah Profesi HRD serta di beberapa tabloid, surat kabar, dan majalah. Beliau juga sering menjadi pembicara tamu dari beberapa perusahaan maupun beberapa Universitas Terkemuka di Indonesia
READ MORE - 7 Alasan Anda Harus Memulai Program Afiliasi

10 Tips Membentuk Rencana Keselamatan Kerja

Keselamatan kerja merupakan faktor yang sangat penting, bahkan harus menjadi prioritas dalam menjalankan pekerjaan. Ini berlaku terutama pada karyawan yang punya pekerjaan berisiko tinggi, seperti di sektor pertambangan, konstruksi, manufaktur, dan sejenisnya.

Oleh karena itu, perusahaan perlu untuk memiliki rencana yang mumpuni mengenai keselamatan kerja. Berikut ini adalah 10 langkah dalam menciptakan program keselamatan kerja, seperti dikutip dari zmags.

1.Memahami Implikasi Regulasi

Perusahaan harus mengetahui regulasi terbaru dari pemerintah, dan memahami implikasinya terhadap perusahaan, yang biasanya bakalan berbeda. Untuk memastikan bahwa aturan perusahaan selaras dengan UU yang ada, maka perusahaan dapat memanfaatkan jasa konsultan safety.

2.Assessment

Lakukan assessment mengenai tiap lokasi kerja. Identifikasi lokasi-lokasi mana saja yang rawan terhadap kecelakaan kerja, kemudian identifikasi pula area-area mana saja yang berisiko untuk terjadi kecelakaan. Selanjutnya, cari pula alasan-alasan apa saja yang dapat mengakibatkan kecelakaan dan risiko kecelakaan tersebut. Prioritaskan lokasi yang punya risiko terbesar.

3.Customized Plan

Setelah mengidentifikasi dan mengukur risiko, kemudian saatnya untuk menyusun safety plan.Safety plan ini berbeda-beda untuk tiap lokasi, fasilitas, gedung, perlengkapan, proses, maupun staf. Buat safety plan yang customized, namun tetap sesuai dengan standar regulasi keselamatan kerja. Kemudian jadikan tiap orang dalam organisasi mempunyai peran dan tanggung jawab dalam safety plan tersebut. Hal ini penting supaya semua karyawan sadar akan pentingnya keselamatan kerja.

4.Written

Setelah merancang rencana yang solid, maka dokumentasikan secara tertulis mengenai program-program safety apa saja yang bakal dilaksanakan. Seluruh rencana harus ditulis, mulai dari rencana kontrol, rencana darurat, rencana komunikasi, dan lainnya. Hal ini perlu supaya rencana jelas, tidak ada yang simpang siur.

5.Training

Setelah semua rencana dan prosedur safety telah didokumentasikan dengan baik, maka selanjutnya adalah saat untuk membawanya ke dunia nyata. Lakukan training supaya karyawan terbiasa dan tidak kagok dalam menjalankan safety plan. Namun jangan lakukan training sesekali saja, melainkan harus secara periodik, atau karyawan bakalan lupa. Seringkali perusahaan hanya sesekali mengadakan training, sehingga ketika safety plan diperlukan, kemudian implementasinya jadi tidak lancar.

6.Insentif

Untuk memotivasi karyawan supaya mau mematuhi safety plan, maka sertakan safety plan sebagai penilaian kinerja, kemudian berikan insentif khusus. Bagi karyawan yang mau mengimplementasikan safety plan dalam pekerjaannya sehari-hari, tentu penilaian kinerjanya lebih baik, dan terdapat insentif tambahan untuk itu. Tanpa insentif, maka karyawan bakalan enggan untuk mengadopsi aturan baru ini.

7.Sederhana

Buat safety plan yang sederhana, sehingga mudah dimengerti oleh seluruh karyawan. Ini penting supaya karyawan dapat mengaplikasikannya dalam pekerjaan sehari-hari. Jika kompleks dan sulit dimengerti, siapa yang mau mengerjakannya? Kemudian simpan mengenai dokumentasi safety plan ini dalam tempat yang mudah dijangkau oleh seluruh karyawan. Berikan mereka akses langsung kepada dokumentasi ini. Mudahnya, simpan dokumentasi manual tersebut secara online.

8.Sistem Pelaporan Jelas

Buat sistem pelaporan yang jelas mengenai insiden di tempat kerja. Sehingga, semua insiden dapat tercatat dengan baik dan langsung ditangani lebih lanjut. Buat sistem yang sederhana dan mudah digunakan, juga mudah diakses oleh seluruh karyawan.

9.Hotline

Buat safety hotline yang selalu bersedia menjadi tempat karyawan untuk mengajukan pertanyaan terkait safety, untuk kemudian memperoleh respon dengan cepat. Sehingga, karyawan yang masih bingung mengenai prosedur yang harus dilakukannya, atau punya pertanyaan tertentu dapat langsung menghubungi hotline.

10.Partisipasi Karyawan

Baik dalam mengembangkan safety plan maupun mengimplementasikannya, libatkan karyawan. Dengan demikian, karyawan juga turut merasa memiliki program tersebut, bukan hanya wajib melakukannya. Hanya dengan sense of belonging tersebut, hasil yang memuaskan dapat dicapai.

Di Indonesia, masalah keselamatan kerja diatur dalam UU No.1/1970, regulasi yang diterbitkan sekitar empat dasawarsa lalu. Terdapat perdabatan mengenai apakah kerangka peraturan tersebut cukup memadai untuk melindungi pekerja. ILO (International Labour Organization) mengusulkan agar UU No.1/1970 ini direvisi dan disesuaikan dengan perkembangan terakhir, sehingga sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam Konvensi ILO No.155/1980 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Di perusahaan-perusahaan besar, Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja kini sudah diwajibkan. Selain itu, Indonesia juga sudah punya pusat penyimpanan informasi K3 yang bisa diakses melalui ASEAN OSHNET, atau jejaring kerja di bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja antara negara-negara ASEAN.
READ MORE - 10 Tips Membentuk Rencana Keselamatan Kerja

Perencanaan Strategi Pemasaran

Berpikir tentang DELL, pertama kali yang terlintas dipikiran kita adalah DELL merupakan sebuah perusahaan komputer yang sukses. Namun sekarang DELL juga memproduksi televisi.

Bagaimana DELL bisa memutuskan untuk masuk kedalam bisnis ini?. Apakah mereka sudah akan bersaing dengan produsen televisi yang sudah memiliki nama seperti Sony dan Panasonic?. Apakah target pasar DELL adalah pelanggan yang sama dengan yang membeli produk computer mereka atau menargetkankan pelanggan baru yang berbeda?. Semua hal diatas behubungan dengan strategi pemasaran yang akan dibahas dalam bab ini.

1. Tugas Manajemen pada Pemasaran

Proses manajemen pemasaran adalah proses dari merencanakan aktivitas pemasaran, mengatur pelaksanaan dari rencana-rencana tersebut dan mengendalikan rencana-rencana tersebut (bagan 1). Perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian adalah tugas-tugas dasar dari semua manajer. Manajer pemasaran juga harus dapat melihat kesempatan-kesempatn yang baru.

Perencanaan (manajemen) strategi adalah tugas strategi perencanaan untuk memandu keseluruhan perusahaan. Hal ini berarti proses manajerial dari mengembangkan dan memelihara perpaduan antara sumber daya organisasi dan kesempatan pasar yang ada. Tugas ini termasuk perencanaan untuk produksi, keuangan, sumber daya manusia dan lain-lain yang dilakukan oleh manajemen puncak.

2. Apakah Perencanaan Strategi Pemasaran?

Perencanaan strategi pemasaran berarti menemukan kesempatan-kesempatan menarik dan mengembangkan strategi pemasaran yang menguntungkan.

Strategi pemasaran terdiri dari target pasar dan paduan pemasaran yang berhubungan. Target pasar adalah kelompok yang sebenarnya sama dari konsumen yang mana perusahaan berharap mereka untuk tertarik. Paduan pemasaran adalah variable-variabel yang dapat dikendalikan dimana perusahaan meletakkannya bersama untuk memuaskan kelompok target ini.

3. Pemilihan Strategi Berorientasi Pasar adalah Target Pemasaran

Strategi pemasaran mengacu pada beberapa konsumen target tertentu. Target pemasaran adalah paduan pemasaran yang dibuat untuk memenuhi konsumen target yang spesifik. Pemasaran massal hampir sama dengan pendekatan yang berorientasi pada produksi, yaitu ditujukan dengan tidak jelas kepada setiap orang dengan paduan pemasaran yang sama.

Manajer yang berorientasi pada produksi melihat setiap orang pada dasarnya adalah sama dan menerapkan pemasaran massal. Sedangkan manajer yang berorientasi pada pemasaran melihat setiap orang pada dasarnya adalah berbeda dan menerapkan pemasaran target.

4. Pengembangan Paduan-Paduan Pemasaran untuk Target Pasar

Ada banyak cara yang memungkinkan untuk memuaskan kebutuhan pelanggan yang menjadi target. Akan tetapi sebenarnya ada empat variable dasar dalam paduan pemasaran yang disebut 4Ps. 4Ps yang merupakan bagian utama dari paduan pemasaran adalah product (produk), place (tempat), promotion (promosi) dan price (harga). Pelanggan ( C ) bukan bagian dari paduan pemasaran melainkan target dari semua pemasaran.

4Ps harus dibuat dan dilaksanakan secara bersamaan. Penting untuk ditekankan bahwa memilih target pasar dan pengembangan paduan adalah saling berhubungan.

5. Rencana Pemasaran adalah Panduan untuk Pelaksanaan dan Pengendalian

Rencana pemasaran adalah pernyataan tertulis dari strategi pemasaran dan bagian-bagian yang berhubungan secara waktu untuk membuat strategi. Bagian-bagian itu adalah (1) paduan pemasaran apa yang akan ditawarkan, kepada siapa (pasar target) dan berapa lama ; (2) sumber daya apa yang ada dalam perusahaan (biaya) yang akan diperlukan ; (3) hasil apa yang diharapkan (penjualan dan laba yang mungkin dalam setiap bulan atau setiap empat bulan, tingkat kepuasan konsumen dan kesukaan.

Setelah pengembangan rencana pemasaran, manajer kemudian fokus dengan pelaksanaaan. Pelaksanaan adalah meletakkan rencana pemasaran kedalam opeerasi. Keputusan operasional yang merupakan keputusan jangka pendek untuk membantu pelaksanaan strategi akan dibutuhkan dalam pelaksanaan.

Program pemasaran memadukan semua rencana-rencana perusahaan kedalam sebuah rencana besar.

6. Program Pemasaran harus Membangun Ekuitas Pelanggan

Program perusahaan akan bermanfaat bagi perusahaan jika dapat meningkatkan ekuitas pelanggan. Ekuitas pelanggan adalah arus pendapatan yang diharapkan (keuntungan) dari pelanggan yang ada saat ini dan pelanggan yang prospektif bagi perusahaan selama beberapa periode waktu.

7. Pentingnya Perencanaan Strategi Pemasaran

Keputusan strategi pada suatu saat adalah keputusan yang memutuskan apa akan dilakukan perusahaan dan strategi yang yang akan mengikutinya, biasanya menentukan kesuksesan atau kegagalan. Rencana yang sangat bagus mungkin saja tidak bagus dalam pelaksanaannya dan masih dapat keuntungan. Sedangkan rencana yang tidak bagus mungkin saja dapat dilaksanakan dengan bagus tetapi tidak menghasilkan laba.

8. Perencanaan Strategi yang Kreatif Diperlukan untuk Bertahan

Perencanaan strategi yang kreatif menjadi semakin penting. Persaingan domestic dan asing mengancam perusahaan yang tidak dapat menyediakan nilai pelanggan yang tinggi dan menemukan cara yang lebih baik dalam menjalin hubungan dengan pelanggan. Pasar baru, pelanggan baru dan cara baru dalam melaksanakan sesuatu harus ditemukan jika perusahaan ingin tetap beroperasi di masa yang akan dating dan menyumbang peran pada system pemasarn mikro. Oleh karena itu perusahaan harus fokus pada penerapan yan terbaik untuk hasil yang lebih baik.

9. Apakah Kesempatan yang Menarik

Kesempatan yang berupa terobosan adalah kesempatan yang membantu para innovator mengembangkan hard-to-copy strategi pemasaran yang akan sangat menguntungkan untuk jangka panjang. Hal ini penting karena selalu ada para peniru yang ingin berbagi keuntungan dengan para innovator.

Jika tidak dapat menemukan kesempatan yang berupa terobosan, perusahaan harus mencoba untuk memperoleh manfaat kompetisi untuk meningkatkan kesempatan memperoleh laba atau kelangsungan untuk bertahan. Manfaat kompetisi berarti bahwa perusahaan mempunyai paduan pemasaran yang mana pasar target melihat sebagai sesuatu yang lebih baik daripada paduan pemasaran pesaing.

10. Proses Perencanaan Strategi Pemasaran Fokus pada Kesempatan-Kesempatan

Diferensiasi berarti bahwa paduan pemasaran yang dimiliki berbeda dan yang lebih baik dari pada yang ada pada pesaing. Bantuan yang berguna untuk mengidentifikasi kriteria perlindungan yang relevan dan untuk membuat dari awal strategi yang memungkinkan untuk dibuat, dibutuhkan SWOT analisis. SWOT analisis yang mengidentifikasi dan mendaftar kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), kesempatan(opportunities) dan ancaman (threats) dari perusahaan.

Analisis SWOT yang baik membantu manajer fokus pada strategi yang membawa manfaat dari kesempatan dan kekuatan perusahaan dan juga mencegah kelemahan dan ancaman pada kesuksesan perusahaan.

11. Tipe-Tipe dari Kesempatan-Kesempatan untuk Dilakukan

Penetrasi pasar berarti mencoba meningkatkan penjualan dari produk yang ada saat ini diperusahaan pada pasar yang ada saat ini, mungkin melalui paduan pemasaran yang lebih agresif.

Pengembangan pasar berarti mencoba meningkatkan penjualan dengan menjual produk yang ada saat ini diperusahaan pada pasar yang baru.

Pengembangan produk berarti menawarkan produk baru dan produk yang telah ditingkatkan mutunya untuk pasar yang ada saat ini.

Diversifikasi berarti perubahan secara keseluruhan garis usaha perusahaan melalui produk yang benar-benar baru, pasar baru dan bahkan tingkatan pada system produksi pemasaran.

12. Kesempatan Internasional harus Dipertimbangkan.

Dunia menjadi lebih kecil dengan adanya peningkatan perdagangan internasional diseluruh dunia dan berkurangnya hambatan dalam perdagangan tersebut. Bahkan dengan adanya e-commerce, transportasi dan komunikasi membuat lebih mudah dan lebih murah untuk mencapai pelangan internasioanal.

Kesempatan internasional harus dipertimbangkan pada proses perencanaan startegi, tetapi tidak akan selalu menjadi yang menarik (dalam mencari keuntungan) untuk dimasukkan dalam strategi. Sebagaimana kesempatan didalam negeri, manajer harus mempertimbangkan kesempatan internasional ini dengan tujuan dan sumber daya dari perusahaan, begltu juga dengan melihatkekuatan dan kelemahan perusahaan.
READ MORE - Perencanaan Strategi Pemasaran

10 Hal Tepenting Dalam Mengorganisasi Diri dan Pekerjaan Anda

Disadari ataupun tidak, setiap hari, setiap jam, setiap menit dan setiap detik, orang-orang di sekeliling Anda bekerja untuk tujuan yang berbeda-beda, tentunya dengan cara-cara yang berbeda pula. Tetapi hanya sedikit dari mereka yang benar-benar memahami cara untuk mendapatkan hasil terbaik dari apa yang mereka kerjakan. Faktor yang berpengaruh tentunya bisa dari aspek karakter pribadi, skill, kompetensi, manajemen pengelolaan pekerjaan sehari-hari dan sebagainya.

Dalam uraian ini, akan dibahas mengenai 10 Hal Tepenting Dalam Mengorganisasi Diri & Pekerjaan Anda. Berikut kita coba uraikan satu persatu dari aspek yang dimaksud dalam beberapa poin penting sbb:
  1. Bekerjalah lebih cerdas, bukan lebih keras. Bekerja keras untuk sesuatu yang kurang efisien tidak akan menghasilkan output yang optimal. Rancanglah langlah-langkah yang lebih simple dalam mengerjakan tugas sehari-hari, kombinasikan melalui cara yang lebih simple dan dapatkanlah hal lebih dari pekerjaan Anda dengan langkah yang lebih mudah.

  2. Tanyakanlah sesering mungkin kepada diri Anda, pertanyaan paling utama dalam Pengelolaan Waktu yaitu : "Apa hal terbaik yang dapat ada gunakan untuk waktu yang Anda miliki sekarang?

  3. Tuliskanlah tujuan yang hendak Anda capai 2 (dua) kali sehari, maka Anda akan lebih fokus dalam menyelesaikan sesuatu hal yang sangat penting.

  4. Kerjakan semuanya secara lebih cepat! melangkah lebih cepat, menulis lebih cepat dan mencari informasi yang dapat meningkatkan kompetensi Anda secara lebih cepat.

  5. Menurut Prinsip Pareto, 80% dari keberhasilan Anda datang dari 20% yang Anda lakukan saat ini. Jika ingin lebih efisien, gambarkanlah dari 20% tersebut untuk hal-hal yang paling penting berdasarkan skala prioritas dan gunakanlah waktu Anda berdasarkan rencana master yang telah Anda susun.

  6. Kerahkanlah seluruh energi Anda ketika mencapai peak performance (kondisi puncak). dan ciptakan hal-hal kreatif ketika dalam kondisi ini.

  7. Hindari penundaan!. Lakukan seluruh tugas Anda dengan segera demi meraih hasil kerja yang lebih berkualitas. Hal ini juga bermanfaat salah satunya untuk mengurangi tekanan deadline dari suatu perkerjaan.

  8. Berikanlah penghargaan khusus kepada diri Anda untuk sesuatu pekerjaan yang telah diselesaikan tepat waktu, atau bahkan lebih cepat dari yang sudah ditargetkan.

  9. Jon Rim says :“Learn how to separate the majors from the minors. A lot of people don’t do well simply because they major in minor things.”

  10. Terakhir, anggaplah semua tugas adalah menyenangkan sehingga Anda akan ikhlas dalam mengerjakannya.
READ MORE - 10 Hal Tepenting Dalam Mengorganisasi Diri dan Pekerjaan Anda

10 Indikator Kelayakan Anda Menjadi Seorang Manager

Menjadi seorang Manager, sebagian besar orang mungkin hanya memimpikannya, sedangkan sebagian kecil lainnya tidak sekedar memimpikannya, tetapi berusaha untuk mewujudkannya! Jika anda termasuk sebagian kecil yang dimaksud, berbahagialah karena jalan menuju kesana terbuka lebar jika anda menguasai trik-triknya dengan benar.


Orang-orang sukses telah menginspirasikan kita untuk mengenali apa yang telah membuat mereka besar, terkenal dan dihormati. Mulai saat ini, yakinkanlah dan latihkan diri anda untuk :

  1. Mampu menginspirasi orang-orang bekerja bersama-sama untuk mencapai suatu tujuan.

  2. Selalu mempunyai kecenderungan dalam memanfaatkan waktu secara bijak dan tidak menunda-nunda.

  3. Mengetahui kapan harus memiliki cukup informasi untuk membuat suatu keputusan.

  4. Mampu merencanakan dan menyusun program untuk sebuah organisasi atau komunitas.

  5. Tidak segan untuk mengambil tanggung jawab ketika suatu hal berjalan tidak sesuai dengan yang telah 6. direncanakan atau diharapkan.

  6. Mampu menganalisa apa yang bisa membuat seseorang termotivasi.

  7. Dipercaya orang lain untuk dapat berbicara atas nama kepentingan bersama dan mewakili mereka secara adil dan wajar.

  8. Memiliki sifat mudah untuk membujuk dan meyakinkan orang lain.

  9. Mempunyai kecakapan dalam mengindentifikasi skil yang orang lain miliki.

  10. Pada saat diperlukan, anda harus sanggup untuk mendelegasikan wewenang kepada orang yang dipercaya, daripada mencoba untuk melakukan semuanya sendirian.
READ MORE - 10 Indikator Kelayakan Anda Menjadi Seorang Manager

Manajemen K3 Kesehatan & Keselamatan Kerja (OHSAS 18001)

Merupakan Sistem Manajemen K3 ( Kesehatan dan Keselamatan Kerja), yang berisi bagaimana suatu organisasi melakukan analisa resiko terhadap bahaya yang berdampak pada kesehatan dan keselamatan kerja.

Isi dari klausul tersebut dijabarkan di bawah dan diintepretasikan sesuai dengan organisasi tersebut.

Sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja – Persyaratan


OHSAS 18001:1999

Ammendment 1 – 2002

Daftar isi
1. Ruang lingkup

2. Referensi publikasi

3. Istilah dan definisi

3.1. Kecelakaan

3.2. Audit

3.3. Peningkatan berkelanjutan

3.4. Bahaya

3.5. Identifikasi bahaya

3.6. Insiden
3.7. Pihak terkait

3.8. Ketidak-sesuaian

3.9. Tujuan

3.10.Kesehatan dan keselamatan kerja

3.11.Sistem manajemen K3

3.12.Organisasi

3.13.Kinerja

3.14.Resiko

3.15.Penilaian resiko
3.16.Keselamatan
3.17.Resiko yang dapat ditolerir


4. Elemen-elemen sistem manajemen
K3
4.1. Persyaratan umum
4.2. Kebijakan K3

4.3. Perencanaan

4.4. Penerapan dan operasi

4.5. Pemeriksaan dan tindakan perbaikan

4.6. Tinjauan manajemen


Lampiran A (informatif) Kaitan antara OHSAS 18001, ISO 14001:1996 dan ISO 9001:1994


1 Ruang lingkup

Seri persyaratan Penilaian Kesehatan dan Keselamatan Kerja (OHSAS) ini menyatakan persyaratan sistem manajemen kesehatan dan kesalamatan kerja (K3), agar organisasi mampu mengendalikan resiko-resiko K3 dan meningkatkan kinerjanya. Secara spesifik persyaratan ini tidak menyatakan kriteria kinerja, ataupun memberikan persyaratan secara lengkap dalam merancang sistem manajemen.

Persyaratan OHSAS ini dapat diaplikasikan kepada organisasi yang berniat untuk:

a) membuat suatu sistem manajemen K3 untuk menghilangkan atau meminimalkan resiko kepada karyawan dan pihak-pihak terkait lain yang mungkin ditimbulkan oleh resiko K3 yang terkait dengan aktivitas kerja organisasi;

b) menerapkan, memelihara dan secara berkelanjutan meningkatkan sistem manajemen K3;

c) menentukan persyaratan tersebut sesuai dengan kebijakan K3 yang ditetapkan;

d) memperlihatkan kesesuaian dengan persyaratan lain;

e) mendapatkan sertifika/registrasi atas sistem manajemen K3 oleh organisasi eksternal; atau

f) menentukan sendiri ketentuan dan deklarasi kesesuaian dengan persyaratan OHSAS


Semua persyaratan OHSAS ini dimaksudkan agar dapat digabungkan dengan sistem manajemen K3. Luasnya aplikasi akan tergantung pada faktor-faktor seperti kebijakan K3 organisasi, sifat dari aktivitas tersebut dan resiko-resiko serta kompleksitas dari operasi-operasinya.


Persyaratan OHSAS ini ditujukan untuk aspek kesehatan dan keselamatan kerja daripada keselamatan produk dan jasa.


2 Referensi publikasi

Publikasi lain yang menyediakan informasi atau pedoman tertera pada daftar publikasi. Sebaiknya bahwa publikasi edisi terakhir yang digunakan. Khususnya, referensi yang digunakan:

§ OHSAS 18002:1999, Pedoman penerapan OHSAS 18001

§ BS 8800:1996, Pedoman sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja


3 Istilah dan definisi

Untuk keperluan persyaratan OHSAS ini, istilah-istilah dan definisi berikut yang digunakan.


3.1 kecelakaan

kejadian yang tidak diinginkan yang dapat mengakibatkan kematian, sakit, luka, rusak atau kecelakaan lainnya


3.2 audit

suatu penilaian sistematis untuk menentukan apakah aktivitas dan hasil-hasil yang berhubungan sesuai dengan pengaturan yang telah direncanakan dan apakah pengaturan tersebut diterapkan secara efektif dan sesuai untuk mencapai kebijakan dan tujuan organisasi (lihat 3.9)


3.3 peningkatan berkelanjutan

proses peningkatan sistem manajemen K3, untuk mencapai peningkatan-peningkatan kinerja kesehatan dan keselamatan kerja secara keseluruhan, sesuai dengan kebijakan K3 organisasi


CATATAN – Proses tidak perlu ditetapkan di seluruh area aktivitas secara serentak


3.4 bahaya

sumber atau situasi yang berpotensi mencelakakan manusia atau sakit, kerusakan properti, kerusakan lingkungan tempat kerja, atau kombinasi dari semuanya.


3.5 identifikasi bahaya

proses untuk mengetahui adanya suatu bahaya (lihat 3.4) dan menentukan karakteristiknya


3.6 insiden

kejadian yang dapat mengakibatkan kecelakaan atau kejadian yang berpotensi menjadi kecelakaan


CATATAN – Suatu kecelakaan di mana tidak terjadi sakit, luka, rusak, atau kecelakaan lain yang terjadi juga disebut sebagai “nyaris terjadi”. Istilah “insiden” termasuk “nyaris terjadi”.


3.7 pihak-pihak terkait

individu atau kelompok yang mempunyai perhatian atau mempengaruhi kinerja K3 organisasi


3.8 ketidak-sesuaian

suatu penyimpangan dari standar kerja, praktek, prosedur, regulasi, item kinerja manajamen, dll. yang dapat secara langsung maupun tidak langsung mengarah terjadinya kecelakaan atau sakit, kerusakan properti, kerusakan lingkungan tempat kerja, atau kombinasi dari semuanya.


3.9 tujuan

sasaran, dalam hal kinerja K3, yang ditetapkan organisasi untuk dicapai.


CATATAN – Tujuan harus dikuantifikasikan bila dimungkinkan


3.10 kesehatan dan keselamatan kerja

kondisi dan faktor-faktor yang berdampak pada kesehatan karyawan, pekerja kontrak, personel kontraktor, tamu dan orang lain di tempat kerja.


3.11 sistem manajemen K3

sebagian dari sistem manajemen keseluruhan yang memudahkan pengelolaan resiko K3 yang terkait dengan kegiatan bisnis organisasi. Hal ini termasuk struktur organisasi, perencanaan kerja, tanggung jawab, praktek, prosedur, proses, tinjauan dan pemeliharaan kebijakan K3 organisasi.


3.12 organisasi

perusahaan, operasi, firma, kelompok usaha, institusi atau asosiasi, atau bagian, baik kelompok atau tidak, publik atau pribadi, yang memiliki fungsi dan administrasi sendiri.


CATATAN – Untuk organisasi dengan lebih dari satu unit operasi, dengan suatu operasi tunggal mungkin disebut sebagai organisasi


3.13 kinerja

hasil yang terukur dari sistem manajemen K3, yang terkait dengan pengendalian kesehatan dan keselamatan kerja organisasi, berdasarkan kebijakan dan tujuan K3 organisasi


CATATAN – Pengukuran kinerja termasuk pengukuran aktivitas dan hasil K3 manajemen.


3.14 resiko

kombinasi dari kemungkinan dan konsekuensi terjadinya kejadian berbahaya yang terpersyaratan


3.15 penilaian resiko

proses perkiraan besarnya resiko secara keseluruhan dan menentukan apakah resiko dapat ditolerir atau tidak


3.16 keselamatan

bebas dari resiko kecelakaan yang tidak dapat diterima (Pedoman 2 ISO/IEC)


3.17 resiko yang dapat ditolerir

resiko yang telah dikurangi sampai pada tingkat yang mampu dipikul oleh organisasi yang berkenaan dengan peraturan hukum dan kebijakan K3 organisasi itu sendiri.


4 Elemen-elemen sistem manajemen K3

4.1 Persyaratan umum

Organisasi harus membuat dan memelihara sistem manajemen K3, yang persyaratannya diuraikan pada klausul 4.


4.2 Kebijakan K3

Kebijakan kesehatan dan keselamatan kerja harus disetujui oleh manajemen puncak organisasi yang menyatakan dengan jelas seluruh tujuan kesehatan dan keselamatan dan komitmen untuk meningkatkan kinerja kesehatan dan keselamatan.


Kebijakan ini harus:

a. sesuai dengan sifat dan skala resiko K3 organisasi;


b. mencakup suatu komitmen untuk peningkatan berkelanjutan;

c. mencakup suatu komitmen untuk paling tidak mematuhi peraturan K3 dan persyaratan lain yang biasa dilakukan oleh organisasi;

d. didokumentasikan, diterapkan, dan dipelihara;

e. dikomunikasikan ke seluruh karyawan dengan tujuan bahwa karyawan menyadari kewajiban K3 masing-masing;

f. tersedia untuk pihak-pihak terkait; dan

g. dikaji secara periodik untuk memastikan kebijakan tetap relevan dan sesuai dengan organisasi.


4.3 Perencanaan

4.3.1 Perencanaan untuk mengidentifikasi bahaya, penilaian resiko dan pengendalian resiko

Organisasi harus membuat dan memelihara prosedur untuk mengidentifikasi bahaya secara rutin, penilaian atas resiko-resiko, dan penerapan kendali pengukuran sesuai keperluan.


Perencanaan ini harus termasuk:

§ aktivitas rutin dan aktivitas tidak rutin;

§ aktivitas seluruh personel yang mempunyai akses ke tempat kerja (termasuk sub-kontraktor dan tamu);

§ fasilitas tempat kerja, yang disediakan baik oleh organisasi ataupun pihak lain.


Organisasi harus memastikan bahwa hasil dari penilaian ini dan dampak pengendalian ini dipertimbangkan pada saat menetapkan tujuan K3. Organisasi harus mendokumentasikan dan memutakhirkan informasi ini.


Metodologi organisasi untuk identifikasi bahaya dan penilaian resiko harus:

§ ditentukan dengan melihat ruang lingkup, sifat dan waktu untuk memastikan metodologi ini proaktif daripada reaktif

§ memberikan klasifikasi resiko dan identifikasi bahwa resiko-resiko tersebut dihilangkan atau dikendalikan dengan pengukuran seperti ditentukan dalam 4.3.3 dan 4.3.4;

§ konsisten dengan pengalaman operasi dan kemampuan kendali pengukuran yang dilakukan;

§ memberikan masukan dalam menentukan persyaratan fasilitas, identifikasi kebutuhan pelatihan dan/atau pengembangan kendali operasional;

§ menentukan pengendalian tindakan yang diperlukan untuk memastikan efektivitas dan waktu penerapannya.


CATATAN – Pedoman lebih lanjut dalam identifikasi bahaya, penilaian resiko dan pengendalian resiko, lihat OHSAS 18002.


4.3.2 Persyaratan hukum dan persyaratan lainnya

Organisasi harus membuat dan memelihara suatu prosedur untuk mengidentifikasi dan mengakses persyaratan hukum dan persyaratan K3 lainnya yang diaplikasikan untuk K3.


Organisasi harus memutakhirkan informasi. Informasi persyaratan hukum dan persyaratan lainnya harus dikomunikasikan kepada karyawan dan pihak-pihak lain yang terkait.


4.3.3 Tujuan

Organsasi harus membuat dan mendokumentasikan tujuan dan sasaran kesehatan dan keselamatan kerja, pada setiap fungsi dan tingkat yang relevan di dalam organisasi.


Pada saat membuat dan meninjau tujuan-tujuan tersebut, organisasi harus mempertimbangkan persyaratan hukum dan persyaratan K3 lainnya, aspek teknologi, aspek keuangan, persyaratan operasional dan bisnis, dan pandangan dari pihak-pihak terkait. Tujuan harus konsisten dengan kebijakan K3, termasuk komitmen untuk peningkatan berkelanjutan.


4.3.4 Program manajemen K3

Organisasi harus membuat dan memelihara (suatu) program untuk pencapaian tujuan K3. Program ini harus meliputi dokumentasi dari:

a. penunjukan penanggung jawab dan kewenangan untuk mencapai tujuan pada setiap fungsi dan tingkat organisasi.

b. cara dan jangka waktu untuk mencapai tujuan.

Program manajemen K3 harus dikaji pada interval waktu yang teratur dan terencana. Bila diperlukan program manajemen K3 dirubah untuk mencakup perubahan aktivitas, produk, jasa, atau kondisi operasional organisasi.


4.4 Penerapan dan operasi

4.4.1 Struktur dan tanggung jawab

Peranan, tanggung jawab dan kewenangan personel, yang mengatur, melaksanakan dan memeriksa aktivitas yang mempunyai dampak resiko-resiko K3 dalam aktivitas organisasi, fasilitas dan proses, harus ditentukan, didokumentasikan, dan dikomunikasikan untuk pelaksanaan manajemen K3.

Tanggung jawab tertinggi dalam kesehatan dan keselatan kerja berada pada manajemen puncak. Organisasi harus menunjuk seorang anggota manajemen puncak (mis. Dalam organisasi skala besar, seorang anggota dewan direksi atau eksekutif) dengan tanggung jawab untuk menerapkan dan melaksanakan persyaratan dengan benar di lokasi dan tempat kegiatan di dalam organisasi.

Manajemen harus menyediakan sumber daya yang penting untuk penerapan, pengendalian dan peningkatan sistem manajemen K3.


CATATAN – Sumber daya termasuk sumber daya manusia dan ketrampilan khusus, teknologi dan keuangan.

Anggota manajemen puncak yang ditunjuk harus mempunyai peran, tanggung jawab dan kewenangan untuk:


a. menjamin persyaratan sistem manajemen K3 dibuat, diterapkan, dan dipelihara sesuai dengan persyaratan OHSAS ini;

b. melaporkan kinerja sistem manajemen K3 kepada manajemen puncak untuk dikaji dan sebagai dasar untuk peningkatan sistem manajemen K3.

Semuanya dengan tanggung jawab manajemen harus memperlihatkan komitmennya untuk meningkatkan kinerja K3.


4.4.2 Pelatihan, kepedulian dan kompetensi

Personel harus kompeten untuk melakukan tugas-tugas yang mempunyai dampak pada K3 dalam pekerjaan. Kompetensi harus ditentukan sesuai atas dasar pendidikan, pelatihan dan/atau pengalaman.


Organisasi harus membuat dan memelihara prosedur untuk memastikan semua karyawan dari setiap fungsi dan tingkat peduli akan:

§ pentingnya kesesuaian dengan kebijakan dan prosedur K3, dan dengan persyaratan sistem manajemen K3;


§ konsekuensi K3, yang aktual atau berpotensi, dari kegiatan kerjanya serta manfaat K3 dari peningkatan kinerja perorangan;

§ peranan dan tanggung jawabnya dalam mencapai kesesuaiannya dengan kebijakan dan prosedur K3 dan dengan persyaratan sistem manajemen K3, termasuk persyaratan kesiagaan dan tanggap darurat;


§ konsekuensi potensial dari penyimpangan terhadap prosedur operasi yang ditentukan.


Prosedur pelatihan harus mempertimbangkan tingkat perbedaan dari:

§ tanggung jawab, kemampuan dan ketrampilan dan

§ resiko


4.4.3 Konsultasi dan komunikasi

Organisasi harus membuat dan memelihara prosedur untuk memastikan informasi K3 yang sesuai dikomunikasikan ke dan dari karyawan dan kepada pihak-pihak terkait lain.


Pengaturan informasi mengenai keterlibatan dan konsultasi harus didokumentasikan dan diberikan kepada pihak-pihak terkait.


Karyawan harus:

§ terlibat dalam pengembangan dan tinjauan kebijakan dan prosedur untuk mengendalikan resiko;

§ dikonsultasikan bila ada perubahan yang berdampak pada kesehatan dan keselamatan tempat kerja;

§ menjadi wakil dalam hal kesehatan dan keselamatan;

§ diinformasikan kepada wakil K3 dan wakil manajemen yang dipilih (lihat 4.4.1).


4.4.4 Dokumentasi

Organisasi harus membuat dan memelihara informasi, dalam media cetak atau elektronik, untuk:

a. menerangkan elemen-elemen inti sistem manajemen dan interaksinya;

b. memberikan petunjuk dokumentasi yang terkait.


CATATAN – Hal penting bahwa dokumentasi dibuat seminimum mungkin untuk efektivitas dan efisiensi.


4.4.5 Pengendalian dokumen dan data

Organisasi harus membuat dan memelihara prosedur untuk mengendalikan semua dokumen yang disyaratkan oleh OHSAS ini untuk menjamin bahwa:

a. dokumen dapat ditempatkan pada lokasi yang sudah ditentukan;

b. dokumen secara berkala ditinjau, dirubah bila diperlukan dan disetujui kecukupannya oleh personel yang diberi wewenang;

c. dokumen mutakhir yang relevan tersedia di seluruh lokasi operasi yang penting bagi berfungsinya sistem manajemen K3 secara efektif;

d. dokumen kadaluarsa segera dimusnahkan dari semua titik penerbitan dan penggunaan, atau sebaliknya dijamin terhadap penggunaan yang tidak sesuai dengan yang dimaksudkan;

e. setiap dokumen kadaluarsa yang disimpan untuk keperluan perundang-undangan dan/atau untuk keperluan pemeliharaan pengetahuan diidentifikasikan secara tepat.


4.4.6 Pengendalian operasional

Organisasi harus mengidentifikasi operasi dan kegiatan yang berkaitan dengan identifikasi resiko, di mana kendali pengukuran perlu dilakukan. Organisasi harus merencanakan kegiatan ini, termasuk pemeliharaannya, untuk menjamin bahwa kegiatan ini dilaksanakan pada kondisi tertentu dengan:

a. membuat dan memelihara prosedur yang terdokumentasi untuk mengatasi situasi ketiadaan prosedur yang dapat menyebabkan penyimpangan dari kebijakan dan tujuan K3;

b. menetapkan kriteria operasi di dalam prosedur;

c. membuat dan memelihara prosedur yang berkaitan dengan identifikasi resiko K3 dari barang, peralatan dan jasa yang dibeli dan/atau oleh organisasi dan mengkomunikasikan prosedur dan persyaratan yang relevan kepada pemasok dan kontraktor.

d. membuat dan memelihara prosedur untuk mendesain tempat kerja, proses, instalasi, mesin, prosedur operasi dan organsisasi kerja, termasuk adaptasinya kepada kemampuan manusia, untuk menghilangkan atau mengurangi resiko K3 dari sumbernya.


4.4.7 Kesiagaan dan tanggap darurat

Organisasi harus membuat dan memelihara rencana dan prosedur untuk mengidentifikasi adanya potensi untuk, dan tanggap pada, insiden dan situasi darurat, serta mencegah dan mengurangi terjadinya sakit dan luka yang mungkin berkaitan dengannya.


Organisasi harus meninjau prosedur kesiagaan dan tanggap darurat, khususnya, sesudah terjadinya kecelakaan atau situasi darurat.


Organisasi harus pula secara berkala menguji prosedur sejauh hal ini dapat dilakukan.


4.5 Pemeriksaan dan tindakan perbaikan

4.5.1 Pemantauan dan pengukuran kinerja

Organisasi harus membuat dan memelihara prosedur untuk memantau dan mengukur kinerja K3 secara teratur. Prosedur ini harus dibuat untuk:

§ pengukuran kualitatif dan kuantitatif, sesuai dengan keperluan organisasi;

§ memantau perluasan yang memungkinkan tujuan K3 organisasi tercapai;

§ mengukur kinerja secara proaktif untuk memantau kesesuaian dengan program manajemen K3, kriteria operasional dan perundang-undangan yang berlaku dan persyaratan peraturan;

§ mengkur kinerja secara reaktif untuk memantau kecelakaan, sakit, insiden (termasuk nyaris terjadi) dan bukti catatan lain penyimpangan kinerja K3;


§ mencatat data dan hasil pemantauan dan mengukur kecukupan untuk melakukan analisis tindakan perbaikan dan pencegahan lanjutan.


Jika peralatan pemantauan digunakan untuk mengukur dan memantau kinerja, organisasi harus membuat dan memelihara prosedur untuk kalibrasi dan pemeliharaan peralatan tersebut. Catatan hasil kalibrasi dan pemeliharaan harus disimpan.


4.5.2 Kecelakaan, insiden, ketidak-sesuaian dan tindakan perbaikan dan pencegahan

Organisasi harus membuat dan memelihara prosedur untuk menentukan tanggung jawab dan kewenangan untuk:

a) penanganan dan penyelidikan atas:

kecelakaan;

insiden;

ketidaksesuaian;

b) mengambil tindakan untuk menghilangkan setiap konsekuensi yang timbul dari kecelakaan, insiden dan ketidaksesuaian;

c) menerbitkan dan menyelesaikan tindakan perbaikan dan pencegahan;

d) konfirmasi bahwa tindakan perbaikan dan pencegahan telah dilakukan.


Prosedur ini harus menentukan bahwa semua tindakan perbaikan dan pencegahan yang diusulkan ditinjau melalui proses penilaian resiko sebelum diterapkan.


Setiap tindakan perbaikan atau pencegahan yang diambil untuk menghilangkan penyebab ketidaksesuaian yang terjadi dan berpotensi untuk terjadi harus sesuai dengan besarnya masalah dan sepadan dengan dampak resiko K3 yang dihadapi.


Organisasi harus menerapkan dan mencatat setiap perubahan ke dalam prosedur terdokumentasi yang dihasilkan oleh tindakan perbaikan dan pencegahan.


4.5.3 Catatan dan manajemen catatan

Organisasi harus membuat dan memelihara prosedur untuk identifikasi, pemeliharaan dan penempatan catatan K3, juga hasil audit serta tinjauan.


Catatan K3 harus mudah dibaca, dapat didentifikasi dan dapat ditelusuri ke kegiatan yang terjadi. Catatan K3 harus dsimpan dan dipelihara sedemikian rupa sehingga catatan ini mudah dicari dan terlindungi agar tidak rusak, usang atau hilang. Jangka waktu penyimpanan catatan harus ditentukan dan dicatat.


Catatan harus dipelihara, sesuai dengan kebutuhan sistem dan organisasi, untuk membuktikan kesesuaiannya dengan persyaratan OHSAS ini.


4.5.4 Audit

Organisasi harus membuat dan memelihara program dan prosedur untuk pelaksanaan audit sistem manajemen K3 secara berkala, agar dapat:

a. menentukan apakah sistem manajemen K3:


§ sesuai dengan pengaturan yang direncanakan untuk manajemen K3, termasuk persyaratan OHSAS ini.

§ telah diterapkan dan dipelihara secara baik; dan


§ efektif memenuhi kebijakan dan tujuan organisasi;


b. meninjau hasil audit sebelumnya;

c. memberikan informasi tentang hasil audit kepada pihak manajemen.


Program audit, termasuk jadwalnya, harus didasarkan pada pentingnya penilaian resiko pada kegiatan organisasi, dan hasil audit sebelumnya. Prosedur audit harus meliputi ruang lingkup, frekuensi, metodologi dan kompetensi, maupun tanggung jawab dan persyaratan pelaksanaan audit dan pelaporan hasilnya.


Bila dimungkinkan, audit harus dilaksanakan oleh personel independen yang terlepas dari tanggung jawab langsung atas aktivitas yang dinilai.


CATATAN – Istilah “independen” di sini tidak berarti pihak dari luar organisasi.


4.6 Tinjauan manajemen


Manajemen puncak organisasi harus, sesuai dengan jadwal yang ditentukan, meninjau sistem manajemen K3, untuk menjamin kesesuaian, kecukupan dan keefektifannya secara berkelanjutan. Proses tinjauan manajemen harus menjamin bahwa informasi penting dikumpulkan untuk memungkinkan manajemen melakukan evaluasi ini. Hasil tinjauan ini harus didokumentasikan.


Tinjauan manajemen harus membahas kemungkinan perlunya perubahan kebijakan, tujuan dan unsur-unsur lainnya dari sistem manajemen K3, berdasarkan laporan hasil audit sistem manajemen K3, perubahan keadaan dan komitmen untuk peningkatan berkelanjutan
READ MORE - Manajemen K3 Kesehatan & Keselamatan Kerja (OHSAS 18001)

Kredit Usaha Tanpa Agunan, Perlukah?

Kredit usaha seperti Kredit Tanpa Agunan (KTA) sebetulnya dibuat untuk memudahkan usaha bisnis Anda. Baik dalam membuka usaha, membeli sesuatu, atau mengatasi kebutuhan tertentu atas sejumlah dana. Orang yang tidak punya uang tunai, seringkali bisa membeli sesuatu dengan cara mengambil kredit. Kalau Anda harus menabung dulu sebelum bisa membeli suatu barang, mungkin dengan mengambil kredit Anda bisa membeli dulu, dan menabungnya belakangan. Hanya saja, menabungnya dalam bentuk membayar ke bank.

Sayangnya sering ada masalah yang muncul dalam mengambil kredit usaha orang sering terjebak mengambil kredit tanpa agunan walaupun sebenarnya dia bisa membayarnya secara tunai. Banyak orang berpikir, kalau saya bisa kredit untuk membeli suatu barang, kenapa saya harus membeli secara tunai (walaupun uang tunainya ada)? Padahal sudah jelas bahwa total uang yang Anda bayar bila Anda membeli barang secara kredit akan lebih besar daripada bila Anda membeli barang tersebut secara tunai. Malah makin lama jangka waktu kreditnya, jumlah uang yang harus Anda bayar biasanya akan makin besar.

Anehnya, walaupun demikian, masih banyak saja orang yang mengambil kredit untuk membeli barang walaupun dia punya uang tunainya. Pikiran yang seringkali muncul adalah bahwa dengan mengambil kredit, seseorang bisa memanfaatkan uang tunai (yang sudah dia miliki) untuk keperluan lain.

Dari situlah muncul pertanyaan, kapan sih sebetulnya seseorang harus membeli barang secara kredit? Dalam tulisan kali ini saya akan membahas tentang kapan Anda harus membeli barang secara kredit, dan kapan Anda harus membeli barang secara tunai.

DUA MACAM NILAI BARANG

Dalam berhutang, ada dua macam barang yang bisa Anda hutangkan. Yang pertama adalah barang-barang yang nilainya menurun, dan yang kedua adalah barang-barang yang nilainya menaik.

Contoh barang yang nilainya menurun yang sering kita hutangkan untuk mengambil kredit usaha adalah:

Kendaraan.

Iya dong, kalau Anda membeli kendaraan dan memakainya dalam jangka waktu katakan enam bulan, maka setelah enam bulan kendaraan tersebut biasanya tidak bisa Anda jual kembali dengan harga yang sama ketika Anda membelinya, tetapi malah lebih rendah. Ini wajar karena kendaraan tersebut mengalami penyusutan nilai. Kecuali nilai dolar tidak naik tinggi sekali, maka harga jual mobil Anda ketika Anda menjualnya kembali harusnya lebih rendah dibanding ketika Anda membelinya, bukan malah lebih tinggi.

Barang-barang elektronik.

Apakah Anda punya barang elektronik di rumah? Apakah Anda ingat berapa harganya ketika Anda membelinya dulu? Bila Anda ingat, sekarang bisakah Anda jual lagi barang tersebut dengan harga yang sama dengan ketika Anda membelinya waktu itu? Biasanya tidak. Ini karena barang elektronik adalah barang yang mengalami penyusutan juga.

Oke, itu adalah contoh barang yang nilainya menurun. Selain barang yang nilainya menurun, ada juga barang yang nilainya menaik. Contohnya adalah properti. Properti terdiri atas tanah dan bangunan. Dalam jangka panjang (diatas 10 tahun), nilai properti biasanya naik terus (tanahnya, bukan bangunannya). Ini karena kebutuhan atas tanah terus meningkat karena bertambahnya jumlah penduduk dunia, sedangkan jumlah tanah tidak bertambah.

MENENTUKAN KREDIT ATAU TIDAK

Sekarang masalahnya, kapan kita harus mengambil barang secara kredit dan kapan kita harus mengambil barang secara tunai? Dibawah ini adalah tipsnya:

Akan lebih baik apabila Anda mengurangi kebiasaan berhutang Anda sebisa mungkin bila barang yang Anda beli tersebut nilainya menurun. Ini karena apabila Anda berhutang dengan cara mengambil kredit, maka jumlah yang Anda bayar biasanya akan lebih mahal dibanding apabila Anda membayar secara tunai.

Kendaraan misalnya. Bila Anda membeli Kendaraan secara tunai, Anda mungkin harus membayar Rp 75 juta rupiah. Tetapi bila Anda membeli kendaraan itu secara kredit (kredit 12 bulan misalnya), maka jumlah yang Anda bayar jatuhnya mungkin akan menjadi Rp 90 juta. Malah, semakin panjang jangka waktunya, jumlah yang Anda bayar akan makin mahal. Mungkin menjadi Rp 110 juta (untuk jangka waktu kredit 24 bulan) atau Rp 130 juta (kredit 36 bulan = 3 tahun). Melihat hal itu, maka pertanyaannya disini adalah: buat apa Anda membayar mahal untuk barang yang nilainya menurun?

Jadi, untuk barang yang nilainya menurun, bayar saja secara tunai kalau memang Anda bisa membayar tunai, supaya jumlah yang Anda bayar akan makin murah.

Bagaimana bila Anda tidak mampu membayar tunai? Solusinya: ambil kredit dengan jangka waktu sependek mungkin yang Anda bisa. Ini karena makin pendek jangka waktunya, makin murah jumlah yang harus Anda bayar. Semakin panjang jangka waktu kreditnya, semakin mahal pula jumlah yang harus Anda bayar secara total. Ingat sekali lagi bahwa barang yang Anda beli adalah barang yang nilainya menurun. Jadi buat apa membayar mahal untuk barang yang nilainya toh akan menurun?

Sekarang, bagaimana bila barang yang Anda hutang tersebut nilainya menaik? Apabila barang yang Anda hutangkan itu secara jangka panjang nilainya menaik (meningkat), maka tidak apa-apa bila Anda mengambilnya secara berhutang, walaupun Anda memang memiliki uang tunai untuk melunasinya secara tunai.

Properti misalnya. Seperti yang Anda tahu, properti terdiri atas Tanah dan Bangunan. Untuk tanah, secara jangka panjang (diatas 10 tahun) nilai tanah mungkin bisa meningkat sekitar 30 persen per tahun. Peningkatan tersebut masih jauh lebih besar dibanding suku bunga KPR yang Anda bayar, yang pada saat ini berada di kisaran 20 persen per tahun.

Jadi, tidak apa-apa bila Anda membeli rumah via Kredit Pemilikan Rumah (KPR) walaupun Anda punya uang tunainya. Maksudnya, membeli rumah secara tunai jelas akan lebih murah. Tapi membeli rumah lewat kredit secara jangka panjang jatuh-jatuhnya Anda akan untung juga karena kenaikan nilai properti Anda (tanahnya lho) masih lebih besar daripada suku bunga KPR yang Anda bayar.
READ MORE - Kredit Usaha Tanpa Agunan, Perlukah?

Tips Supaya Keuangan Tidak Kedodoran Di Tahun 2010

Menjelang tahun 2010, ada beberapa tips supaya keuangan kita tidak kedodoran di tahun 2010 nanti.

Berdasarkan survey kecerdasan finansial atau Financial Quotient dari Citi Indonesia, sekitar 29% orang yang mematuhi anggaran bulanan yang dibuatnya. Sementara 82% baru pada tahap berusaha membuat dan mengikuti anggaran.

Langkah awal untuk mengelola keuangan dengan lebih baik adalah dengan mengevaluasi posisi keuangan. Cara untuk mengevaluasi posisi keuangan dengan mendata ulang aset apa saja yang dimiliki dan berapa besar utang. Cara yang baik untuk mengelola keuangan adalah membiasakan untuk membuat anggaran dimana bisa memonitor pemasukan dan pengeluaran.

Untuk mencapai tujuan finansial kita, gunakan cara SMART yaitu Spesifik, Mudah Diukur, Akan Tercapai, Realistis, Tujuan Nyata.

Pertama, Spesifik.

Menentukan target yang spesifik bukan dengan sekedar mengatakan “Mulai tahun depan saya akan lebih rajin menabung” akan tetapi tentukan berapa besar jumlah tabungan yang kita inginkan, mulai kapan kita menabung dan berapa lama kita memperoleh nilai yang kita inginkan tersebut. Dengan begitu kita akan menjadi lebih disiplin untuk menyisihkan sejumlah dana yang harus ditabung per bulannya.

Kedua, Mudah Diukur.

Menentukan tujuan yang terukur dapat membantu kita memonitor apakah kita sudah berada di jalur yang sesuai dalam mencapai tujuan. Misalnya, jika tujuan kita adalah mengumpulkan dana untuk pembayaran uang muka sebuah rumah baru tahun depan, maka tentukanlah berapa besar dana dari penghasilan kita yang harus disisihkan per bulannya.

Ketiga, Akan Tercapai.

Buatlah tujuan yang dapat kita capai dan berpikirlah jangan panjang, namun tetap menentukan tujuan-tujuan kecil yang dapat membantu kita mencapai hasil yang lebih besar. Misalnya, kita ingin memiliki uang Rp 15 juta rupiah dalam setahun, maka tujuan kecil yang harus kita capai tiap bulannya adalah dengan menabung minimal Rp 1.250.000,- dalam 12 bulan ke depan.

Keempat, Realistis.

Kita harus realistis dalam menciptakan tujuan keuangan. Karena jika tidak, kita akan menghadapi kegagalan yang sangat besar. Misalnya, kita bercita-cita untuk mencapai target 60% tingkat pengembalian investasi dalam setahun.

Kelima, Tujuan Nyata.

Dengan tujuan yang nyata, berarti pencapaian terhadap sesuatu hal yang benar-benar ada pasti dan bisa diukur. Kita akan termotivasi untuk menentukan tujuan yang lebih tinggi jika kita pernah mencapai tujuan yang pernah kita putuskan sebelumnya.

Jangan lupa untuk melibatkan anggota keluarga kita dalam menentukan tujuan finansial. Karena mereka juga akan menunjang dalam pencapaian tujuan tersebut. Tulislah tujuan-tujuan tersebut dan kaji ulang dari waktu ke waktu, hal ini akan sangat membantu dalam mencapai tujuan keuangan.


Selamat mencapai tujuan keuangan Anda.
READ MORE - Tips Supaya Keuangan Tidak Kedodoran Di Tahun 2010

Gagal adalah Sebuah Keputusan!

Pernahkah Anda mengalami, dimana hasil dari usaha Anda tidak sesuai dengan harapan Anda. Pasti pernah. Saya juga pernah. Hal ini mungkin sangat biasa bagi para pebisnis. Target telah ditetapkan, strategi telah dipikirkan masak-masak, rencana telah disusun, dan tindakan pun telah dilakukan. Namun hasilnya? Ternyata tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Kalau hasilnya sama atau melebihi yang kita harapkan tentu tidak apa-apa, tapi kalau jauh dibawah yang kita harapkan, terkadang membuat kita berpikir, yah ... gagal deh.

Tapi sesungguhnya apakah gagal itu? Saya jadi teringat sebuah cerita. Anda mungkin pernah mendengarnya dari orang lain. Tapi tidak apa-apa, saya ulang saja. Ini tentang seorang dukun Indian tua yang terkenal sangat sukses. Seperti Anda tahu, tugas utama dukun Indian adalah melakukan tarian memanggil hujan. Tidak setiap kali dukun Indian menari akan terjadi hujan, makanya tingkat keberhasilan dukun Indian diukur dari berapa kali hujan terjadi dibanding berapa kali dia menari.

Nah, dukun Indian kita ini tingkat keberhasilannya mencapai 100%. Setiap kali dia menari, pasti terjadi hujan. Sementara tingkat keberhasilan dukun Indian lain, rata2 hanya 50% ? 60%. Berita kehebatan sang dukun tua tadi sampai ke telinga seorang dukun muda yang sangat berbakat. Dukun muda ini penasaran karena tingkat keberhasilannya baru 70%. Jadi rata2 dari 10 kali dia menari, tujuh kali berhasil terjadi hujan. Penasaran, dukun muda ini pun memutuskan untuk "apprentice" kepada dukun tua.

Dipelajarinya setiap langkah, gerak, dan mantra yang diucapkan si dukun tua. Dukun muda pun melakukan duplikasi. Bahkan tidak berani ATM ? Amati Tiru Modifikasi, tapi ATP - Amati Tiru Persis. Hingga dukun muda pun puas karena sudah bisa menduplikasi tarian pemanggil hujan milik dukun tua. Dukun muda pun kembali ke kampung nya.

Namun, setelah menerapkan seluruh ilmu dukun tua, ternyata tingkat keberhasilannya hanya naik sedikit menjadi 75% masih jauh dari 100%. Dukun muda pun kembali ke kampung dukun tua untuk protes, karena pasti masih ada rahasia yang disembunyikan. Dukun muda pun mendemonstrasikan tarian nya di depan dukun tua.

Dukun tua setelah mengamati mengkonfirm bahwa tarian dan mantra2 dukun muda sudah betul dan tidak ada yg salah. Dukun muda pun semakin bingung, apa perbedaan antara dia dan dukun tua. Dukun muda pun pamit pulang.

Sesaat sebelum dukun muda meninggalkan tenda, dengan mengisap pipa rokoknya dukun tua berkata: "Oh ya, sudahkah aku katakan, bahwa setiap aku menari, aku tidak pernah berhenti hingga hujan datang?" Ya. Tidak pernah berhenti! Itulah perbedaan antara sang dukun yang sukses 100% dengan yang lain.

Keputusan untuk berhenti, atau terus, itulah rupanya gerbang yang membedakan antara keberhasilan dan kegagalan. Ketika Anda menghadapi bahwa hasil yang Anda harapkan tidak sesuai rencana Anda, ada dua pilihan bagi Anda:
- Berhenti, dan mendeklarasikan kegagalan, atau
- Menganggap hasil tadi sebagai feedback untuk merevisi strategi Anda, dan Anda mencoba kembali dengan strategi baru.

Jika Anda memilih gagal, maka pilihan pertama dapat Anda ambil. Sementara orang-orang yang tidak pernah gagal, akan memilih pilihan kedua. Mereka menjadikan hasil yg tidak sesuai harapan tadi sebagai masukan, menyusun strategi baru, dan mencoba kembali. Kalau hasilnya masih tidak sesuai, strategi kembali dirumuskan ulang, dan tindakan baru diambil. Demikian berulang-ulang. Hingga "turun hujan". Jadi gagal, dan juga berhasil, adalah sebuah keputusan. Terserah Anda.
READ MORE - Gagal adalah Sebuah Keputusan!

Kisah Secangkir Kopi Yang Mendunia

Apa yang akan Anda lakukan jika ide Anda ditolak dan dilecehkan-bahkan dianggap gila-oleh 217 orang dari 242 yang diajak bicara? Menyerah? Atau malah makin bergairah? Jika pilihan terakhir ini yang Anda lakukan, barangkali suatu saat, sebuah impian membuat bisnis kelas dunia bisa jadi milik Anda.

Yah, itulah kisah nyata yang dialami oleh Howard Schultz, orang yang dianggap paling berjasa dalam membesarkan kedai kopi Starbucks. "Secangkir kopi satu setengah dolar? Gila! Siapa yang mau? Ya ampun, apakah Anda kira ini akan berhasil? Orang-orang Amerika tidak akan pernah mengeluarkan satu setengah dolar untuk kopi," itulah sedikit dari sekian banyak cacian yang diterima Howard, saat menelurkan ide untuk mengubah konsep penjualan Starbucks.

Dalam buku otobiografinya yang ditulis bersama dengan Dori Jones Yang- Pour Your Heart Into It; Bagaimana Starbucks Membangun Sebuah Perusahaan Secangkir Demi Secangkir-Howard menceritakan bagaimana ia merintis "cangkir demi cangkir" dan menjadikan Starbucks sebagai kedai kopi dengan jaringan terbesar di seluruh dunia.

Awalnya, Howard Schultz adalah seorang general manager di sebuah perusahaan bernama Hammarplast. Suatu kali, ia datang ke Starbucks yang pada awalnya hanyalah toko kecil pengecer biji-biji kopi yang sudah disangrai. Toko ini dimiliki oleh duo Jerry Baldwin dan Gordon Bowker sebagai pendiri awal Starbucks. Duo tersebut memang dikenal sangat getol mempelajari tentang kopi yang berkualitas. Melihat kegairahan mereka tentang kopi, Howard pun memutuskan bergabung dengan Starbucks, yang kala itu baru berusia 10 tahun. Ia pun segera bisa dekat dengan Jerry Baldwin. Sayang, hal itu kurang berlaku dengan Gordon Bowker dan Steve, seorang investor Starbucks baru. Meski begitu, Howard tetap berusaha beradaptasi dan mencoba mengenalkan berbagai ide pembaruan untuk membesarkan Starbucks.

Suatu ketika, Howard Schultz datang dengan ide cemerlang. Ia mendesak Jerry untuk mengubah Starbucks menjadi bar espresso dengan gaya Italia. Setelah perdebatan dan pertengkaran yang panjang, keduanya menemui jalan buntu. Jerry menolak karena meskipun idenya bagus, Starbucks sedang terjerumus dalam utang sehingga tidak akan mampu membiayai perubahan.

Howard pun lantas bertekad mendirikan perusahaan sendiri. Belajar dari Starbucks, ia tidak mau berutang dan memilih berjuang mencari investor. Dan, pilihan inilah yang kemudian membuatnya harus bekerja ekstra keras. Ditolak dan direndahkan menjadi bagian keseharian yang harus dihadapinya.

Tekad itu terwujud--dan bahkan--dengan uang yang terkumpul dari usahanya, ia berhasil membeli Starbucks dari pendirinya. Namun, kerja keras itu tak berhenti dengan terbelinya Starbucks. Saat terjadi akuisisi, ia mendapati banyak karyawan yang curiga dan memandang sinis perubahan yang dibawanya. Tetapi, dengan sistem kekeluargaan, ia merangkul karyawan dan bahkan memberikan opsi saham sehingga sense of belonging karyawan makin tinggi.

Kini, dibantu dengan CEO yang diperbantukannya, Orin C Smith, Howard berhasil mengembangkan Starbucks hingga puluhan ribu cabang di seluruh dunia. Ia juga menekankan layanan dengan keramahan pada konsumen, dan di sisi lain, memperlakukan karyawan sebagai keluarga. Dengan cara itu, Howard terus berekspansi hingga terus menjadi kedai kopi terbesar.

Howard Schultz adalah gambaran kegigihan seseorang dalam mewujudkan ide. Meski diremehkan pada awalnya, Howard tetap bertahan dan akhirnya membuktikan bahwa dengan tindakan nyata, semua ide bisa menjadi nyata. Kepedulian yang ditunjukkan dengan "memanusiakan" semua karyawannya juga telah membuatnya makin disegani sehingga mampu terus memperbesar usahanya.

Sumber : www.andriewongso.com
READ MORE - Kisah Secangkir Kopi Yang Mendunia

Pengertian ISO 9000 Sistem Standar Manajamen Mutu

ISO 9001:2000 adalah suatu standar internasional untuk sistem manajemen Mutu / kualitas. ISO 9001:2000 menetapkan persyaratan - persyaratan dan rekomendasi untuk desain dan penilaian dari suatu sistem manajemen mutu.

ISO 9001:2000 bukan merupakan standar produk, karena tidak menyatakan persyaratan - persyaratan yang harus dipenuhi oleh sebuah produk (barang atau jasa). ISO 9001:2000 hanya merupakan standar sistem manajemen kualitas.

Namun, bagaimanapun juga diharapkan bahwa produk yang dihasilkan dari suatu sistem manajemen kualitas internasional, akan berkualitas baik (standar).

Sehingga dapat disimpulkan bahwa Quality Management Systems (ISO 9001:2000) adalah:

1. Merupakan prosedur terdokumentasi dan praktek - praktek standar untuk manajemen sistem, yang bertujuan menjamin kesesuaian dari suatu proses dan produk (barang atau jasa) terhadap kebutuhan atau persyaratan tertentu, dimana kebutuhan atau persyaratan tertentu tersebut ditentukan atau dispesifikasikan oleh pelanggan dan organisasi.

Manfaat Penerapan ISO 9001:2000 adalah :
1. Meningkatkan kepercayaan dan kepuasan pelanggan melalui jaminan kualitas yang terorganisasi dan sistematik.

2. Meningkatkan brand image perusahaan serta daya saing dalam memasuki pasar global.

3. Meningkatkan kualitas dan produktivitas dari manajemen melalui kerjasama dan komunikasi yang lebih baik, sistem pengendalian yang konsisten, serta pengurangan dan pencegahan pemborosan karena operasi internal menjadi lebih baik.

4. Sistem terdokumentasi dengan baik

5. Sebagai sarana pelatihan - pelatihan secara sistematik kepada seluruh karyawan dan manajer organisasi melalui prosedur - prosedur dan instruksi - instruksi yang terdefinisi secara baik.

6. Meningkatkan Kinerja karyawan

7. Menghemat biaya dan mengurangi duplikasi audit sistem kualitas oleh pelanggan.

8. Terjadi perubahan positif dalam budaya kerja. dll

ISO 9001 : 2000 berisi standard / elemen yang memungkinkan organisasi / industry dalam melakukan perbaikan yang berkesinambungan ( Continual Improvement ) pada :
1. Proses yang terkait dengan pelangan
2. Sistem Kepemimpinan / Leadership
3. Manajemen sumber daya
4. Perbaikan dan peningkatan proses
5. Sistem manajemen
6. Sistem perbaikan yang berkesinambungan
7. Pengambilan keputusan yang Factual
8. Hubungan saling menguntungkan dengan pemasok

PENGERTIAN MUTU: gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang/jasa, yang menunjukan kemampuannya dalam memuaskan konsumen sesuai dengan kebutuhan yang ditentukan.
· Memenuhi persyaratan konsumen/pelanggan
· Sesuai dengan kegunaan
· Memuaskan pelanggan pada biaya kompetitif
· Resultante dari karakteristik produk dan jasa pemasaran,
· Rekayasa, pembuatan dan pemeliharaan yang membuat produk
· Dan jasa yang digunakan memenuhi harapan konsumen/
· Pelanggan


MANAJEMEN MUTU (QUALITY MANAGEMENT): Untuk mengantisipasi persaingan, aspek mutu perlu selalu di evaluasi dan direncanakan (perbaikan/peningkatan) melalui penerapan fungsi-fungsi manajemen mutu

MANAJEMEN MUTU TERPADU (TOTAL QUALITY MANAGEMENT) / TQM: bukan hanya fungsi produksi yang mempengaruhi kepuasan pelanggan terhadap mutu tetapi tanggung jawab terhadap mutu tidak cukup dibebankan kepada bagian tertentu saja, tetapi sudah menjadi tanggung jawab seluruh individu di perusahaan .

MANAJEMEN MUTU:
semua aktifitas dari keseluruhan fungsi manajemen yang menetapkan kebijakan mutu, tujuan dan tanggung jawab perusahaan, serta melaksanakannya dengan cara seperti perencanaan mutu, pengendalian mutu, pemastian mutu dan peningkatan mutu di dalam sistem mutu.

SISTEM MUTU:
Struktur organisasi, prosedur, proses dan sumberdaya yang diperlukan untuk menerapkan manajemen mutu.

MANAJEMEN MUTU --> KEGIATANNYA

SISTEM MUTU --> WADAHNYA

TUJUAN AUDIT MUTU: Dilihat dari dampak globalisasi:
· Produk bermutu
· Persyaratan yang dituntut pasar
· Batas antar negara tidak ada
· Dituntut kesamaan standar terhadap mutu

Catatan: untuk konsistensi mutu produk yang dihasilkan perlu pengendalian mutu (quality control)


PENGENDALIAN MUTU: Dilihat dari aktifikasi inspeksi :
· Memeriksa produk
· Menerima memakai syarat
· Menerima tidak memakai syarat

Pada awalnya ISO 9000 sebagai tuntutan pasar ternyata memberikan nilai tambah:
· Peningkatan produktifitas
· Peningkatan efisiensi
· Penurunan biaya
· Peningkatan kepuasan pelanggan

Maka dirasakan sebagai kebutuhan perusahaan.

Awal 1987 s/d maret 1990 --> 95.187 sertifikat
· 50 % perusahaan di inggris
· 20 % perusahaan di eropa
· sisanya afrika, asia barat, asia tenggara

Indonesia :
1996 --> ada 170 perusahaan
2001 --> ± 3000 perusahaan

Seri standar iso 9000 ini terdiri dari klausul – klausul yang mengatur mulai tanggung jawab manajemen terhadap mutu sampai dengan hal – hal teknis yang menyangkut :
· Pembelian bahan baku
· Perencanaan mutu
· Pengendalian proses
· Pengujian produk akhir
· Pelayanan pelanggan dll

Seri ISO 9000 dibedakan atas:
· ISO 9001 --> ada 20 klausul
· ISO 9002 --> 19 klausul
· ISO 9003 --> 16 klausul

Sertifikasi yang diperoleh di audit setiap 6 bulan oleh badan sertifikasi (auditor)

ISO 9001 ; ISO 9002 ; ISO 9003 --> Kategori Kontraktual
Perusahaan memerlukan bukti pengakuan dari pihak ketiga dalam bentuk sertifikat dari badan sertifikasi dalam penerapan standar diperlukan lembaga pendukung seperti :
· Konsultan
· Lembaga Sertifikasi
· Lembaga Akreditasi
· Laboratorium Penguji, dsb

Berikut prosedur sertifikasi standar produk di Indonesia:

READ MORE - Pengertian ISO 9000 Sistem Standar Manajamen Mutu
Tips Menghindari Penipuan Berkedok Asuransi

Pemilik (Cadangan) Emas Terbesar Dunia, Indonesia Di nomor 37

Mengintip Tips Perjalanan Para Eksekutif Bisnis

Blue Ocean Strategy

Tips Membeli Emas Batangan, Emas Perhiasan & Emas Putih

Sales People: Amatir VS Professional

7 Kesalahan Terbesar dalam Marketing

Keterampilan Dasar Sales: Sudahkah Anda Miliki?

10 Konsep Marketing untuk Usaha Kecil

Peluang Usaha di Tahun 2010 yang Bakal Exis

8 Point Sederhana untuk Merebut Peluang Bisnis

9 Langkah Sukses Entrepreneur

10 Cara Efektif Mengurangi Hutang-Hutang Anda

Wanita-Wanita Berpengaruh dalam Bisnis

Kiat Sukses Usaha Waralaba

Bagaimana Mendanai Usaha?

Mengapa Hanya Sedikit Orang yang Sukses ?

Investasi di Bisnis Online, Kenapa Tidak?

Tak Takut Kaya, Tak Takut Miskin

Membuat Pelanggan Senang Berbelanja di Toko Anda

Tips Meningkatkan Pendapatan Adsense

Kunci Menuju Great Customer Service

Menciptakan Service Excellence Untuk Layanan Online

4 Kunci Utama dalam Melayani Pelanggan

Mengenali Faktor-faktor Kepuasan Pelanggan

Cara Memasarkan Produk Bisnis Online

Tips Bisnis Online Pemula :)

Tips Memulai Usaha Makanan

Tips Membangun Bisnis Cafe

Karakteristik Pengusaha Sukses

7 Tips Menjalankan Peluang Usaha Rumahan

Sukses Mengelola Wirausaha/Bisnis Online

Tips Cerdas dan Aman Memilih Asuransi

Tips Ampuh Menghapus Hutang Kartu Kredit

Tips Cerdas Menjadi Seorang Jutawan

5 Aspek Kesuksesan

5 Hukum Investasi Sepanjang Masa

Usaha Dengan Modal di Bawah 1 Juta

Pilih Investasi yang Menguntungkan

Inilah Siklus Karir Anda

4 Modal Menjadi Entrepreneur (Ternyata Bukan Uang)

Bagaimana Menjadi Komunikasi Yang Handal

Bodoh VS Pintar ala Bob Sadino

Contoh Usaha Mandiri

Apakah Mimpi Anda di Dalam Hidupmu?

How To Start a Business

Pilih Cara Mana Menerjuni Dunia Bisnis?

Memulai Usaha Sendiri

Cara Mem-Franchise-kan Usaha Anda